Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngugemi Warisan Kyai

Kyai adalah julukan yang ditujukan kepada sosok yang memiliki kelebihan dalam keluhuran budi, ilmu, kelembutan berfikir, sifat andap asor dan kelebihan dalam membuat kebijakan dan kelebihan dalam berhubungan dengan orang lain.


Di dalam Islam memang tidak ada aturan terkait julukan ini, namun di dalam budaya Jawa ini menjadi suatu hal yang sangat dikenal. Dahulu para kyai di Jawa telah membuktikan kepiawaiyan mereka dalam berakhlak dan berhubungan sosial. Kyai jarang sekali marah bahkan pada saat seharusnya manusia pada umumnya marah. Kyai tidak mudah gupuh dalam bertindak di dalam kondisi sedarurat apapun. Sejarah menggambarkan bagaimana seorang kyai memiliki ilmu kadigdayan yang luar biasa yang digambarkan sebagai hadiah dari Tuhan sebagai penopang aktifitas yang sering bergelut dengan konflik antar masyarakat. Walaupun keabsahannya masih diragukan, terkait ilmu kanuragan, namun sejarah berusaha menggambarkan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh seorang Kyai pada zaman dahulu.

Di Muhammadiyah ada Kyai Ahmad Dahlan yang membuktikan diri sebagai seorang manusia yang memiliki kepiawaiyan dalam berpolitik dan berhubungan sosial. Bisa menempatkan diri dengan posisi yang tepat di segala kondisi dan waktu. Bahkan bisa menjadikan musuh bersama menjadi teman berdiskusi disaat kondisi ini memang dibutuhkan. Bisa masuk ke intern pergerakan musuh untuk memperbaiki keadaan dari "arah yang berbeda".

Di NU ada Kyai hasyim Asyari yang dikenal memiliki keunggulan budi pekerti. Berakhlak mulia dan tidak pernah mengesampingkan kelompok lain diluar kelompoknya demi perjuangan bersama dibawah naungan kemuliaan Islam.

Mereka secara sengaja berusaha mewariskan sifat, sikap, kepribadian, keluhuran, kebijaksanaan, akhlak berpolitik, akhlak sosial yang diadopsi dari akhlakul karimah yang telah diajarkan oleh Rosulullah sollallohu alaihi wa salam melalui Muhammadiyah dan NU.

Masih banyak lagi Kyai-kyai lain di negeri ini yang dengan segala potensi berusaha mewariskan kuluhuran budi pekerti dan berusaha melahirkan generasi-generasi yang tidak sombong dan rendah hati, berakhlak muli baik sesama umat Islam maupun dengan non-muslim.

Namun, jangan tanya bagaimana manusia sekarang yang mengaku telah meneruskan perjuangan para Kyai terdahulu tersebut. Sebagian dari kita bahkan tidak mewarisi sedikitpun keluhuran budi yang telah diwariskan para Kyai terdahulu. Sebagian lagi merasa paling benar sendiri dengan mengesampingkan kelompok lain. Bahkan sebagian lagi bernafsu menguasai semuanya, mengalahkan yang lainnya, menghina yang tidak sefaham dengannya. Memusuhi, bahkan kepada kelompok yang tidak pernah memusuhi mereka.

Kondisi ini, membuat kita semua sangat perihatin. Tidak lagi ngugemi warisan para Kyai. Apalagi jika di bandingkan dengan keluhuran Rosululloh, jauh.

Seharusnya, kita semua fahami apa yang Nabi Allah sampaikan dalam sunnah, di dalam kehidupan beliau. Bagaimana mensikapi segala masalah, bagaimana hidup di ranah sosial yang majemuk, bertetangga, berpolitik dan berhubungan dengan masyarakat lain bahkan non-muslim. Kyai atau dikenal juga dengan ulama adalah warosatul anbiya', pewaris para Nabi. Semuanya tertuju pada Rosululloh, karena Rosululloh adalah Kyai tertinggi kita.

Posting Komentar untuk "Ngugemi Warisan Kyai"