Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kontribusi Jaringan Pesantren & Islamisasi Nusantara (3)

Oleh: Agus Supatma*
(Alumni Pesantren Tinggi Al-Ghazalli Surakarta)
Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Nusantara (Pesantren)
Sebagaimana dijelaskan di awal--bahwasannya perbedaan nama antara pesantren dengan dayah, langgar, surau hanya terletak pada letak geografis suatu wilayah saja. Dalam bahasan ini akan sedikit mengupas tentang pesantren. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang sangat tua usianya, pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan dasar tentang Islam, tetapi juga memberikan latihan dan cara berfikir orang Islam. (Sartono Kartodirdo, 2015: 168).  Lembaga yang sangat tua ini tentu mempunyai daya tarik dan kekuatan baru di kalangan rakyat dalam kondisi yang di ciptakan oleh kebangkitan agama.

Pada tahun 1860-an, jumlah pesantren di pulau Jawa di perkirakan sekitar 300 dan hanya beberapa diantaranya yang memliki santri lebih dari 100 santri.  Ketaatan pada Kiai merupakan hal yang mutlak, kedisiplinan yang keras dalam kehidupan sehari-hari serta persamaan dan persaudaraan merupakan hal yang esensial dalam kehidupan pesantren. Kelebihan yang di miliki pesantren ini juga lebih baik jika di bandingkan dengan dayah, langgar ataupun surau, selain pengkajian ilmunya secara mendalam, ini juga di topang oleh hal-hal di atas yang merupakan unsur pembentuk karakter dari para santri itu sendiri. Kemasyhuran pesantren merupakan daya tarik tersendiri yang melekat pada pesantren tersebut, dan hal ini di topang oleh reputasi gurunya. Sebagai pusat dan sumber kebudayaan Jawa-Islam yang sesungguhnya, pesantren dianggap sebagai pusat pendidikan dan acuan. Tidaklah keliru untuk mengatakan bahwa  pada abad ke-19 banyak pesantren yang sudah mempunyai dimensi nasional.

Sebagaimana penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa perubahan pola yang di alami oleh pesantren berjalan secara alamiah dan disesuaikan dengan kebutuhan. Banyak fakta sejarah yang mengungkapkan peranan pesantren dalam melawan penjajah. Di antara para pejuang dalam pendidikan tersebut mereka juga turun ke medan perang untuk jihad, penggerak dari perlawanan tersebut rata-rata adalah kaum santri beserta Kiainya. Banyak di antara mereka yang sudah berkorban baik harta benda sekaligus nyawa--mereka  gunakan tumbal sebagai upaya mengusir penjajah kolonial Belanda.

Ketakutan elit politik pemerintahan kolonial dan kaum priayi ini semakin menjadi-jadi setelah terjadi perlawanan dari masyarakat santri teresebut, merek juga terus berupaya untuk menggembosi perlawanan tersebut melalui oknum-oknum kaki tangan mereka. Bahkan ada  anggapan yang menyatakan bahwa “tiap pesantren berpotensi untuk menjadi pusat sentimen anti eropa dan anti priayi”.  Apa yang ditunjukan oleh para ulama beserta santrinya ini memang sangat baik ketika melakukan propaganda pada masyarakata untuk membantu perlawanan yang dilakukan oleh kaum santri terhadap penjajah tersebut. 

Begitulah sisi lain dunia pesantren, di satu sisi ia berperan sebagai pusat pendidikan dan pengendalian ideologi, tapi di sisilain bisa di gunakan untuk menyatukan visi dalam melawanan penjajah di masa itu. Peran yang luar biasa tersebut seringkali tidak di ketahui oleh banyak orang, hanya segelintir orang saja yang tahu akan peran kaum santri. Bisa di bayangkan jika tidak ada para ulama beserta santri tersebut mungkin sampai saat ini negara kita belum merdeka. Diakui atau tidak yang menyatukan nusantara adalah para ulama, bukan yang lain. 

Sistem Pendidikan Pesantren*
Setiap lembaga pendidikan pastilah punya corak, watak, sifat dan lainnya. Selain itu pendidikan pesantren memberikan warna yang berbeda terhadap pendidikan. Fungsi utama pesantren tersebut selain sebagai pusat pendidikan tetapi juga sebagai tempat untuk belajar hal lain. Dan patut di ketahui bersama bahwa pesantren adalah lembaga asli Indonesia dan merupakan warisan kekayaan bangsa Indonesia yang akan terus berkembang. Bahkan pada waktu melenium ketiga ini menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. (Dhofier, 2015:41)
Keidentikan pesantren tersebut juga tergambar jelas dengan adanya Kiai, Santri, Masjid, Pemondokan, dan Kitab Kuning. Adapun sistem pembelajarannya serupa dengan yang ada di masjid ataupun langgar tetapi dari sisi materi lebih berbobot dan beraagam, seperti bahasa arab, tafsir, hadist, fikih, ilmu kalam, tasawuf, tarikh dan lainnya. (Abdul Qodir, 2015: 155). Dalam 24 jam santri belajar di dalam pesantren tersebut dengan harapan agar dapat menjadi seorang yang pandai(alim) dalam bidang agama Islam dan selanjutnya dapat menjadi juru dakwah atau guru di tengah-tengah masyarakatnya.

Tujan Pesantren pesantren sendiri terbagi menjadi dua bagian;
1.Tujuan Umum; membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, yang dengan ilmu agama agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya;
2.Tujuan khusus; mempersiapkan santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang di ajarkan oleh Kiai yang bersangkutan serta mengamalkan dalam masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren juga mempunyai metode pembelajaran tersendiri dalam mendidik para santrinya. Meskipun metode yang di gunakan masih tergolong tradisional,  sampai saat ini metode ini tetap digunakan dan bisa bertahan. Hampir-hampir metode ini telah melampaui ruang dan waktu. Adapun metode tersebut yang pertama adalah sorogan, pada metode ini santri membaca kitab di hadapan Kiai. Kesalahan dalam pembacaan langsung dapat di ketahui dan di benarkan oleh Kiai, metode ini dapat di katakan sebagai proses belajar mengajar individual. (Dhofier, 2015: 54)

Metode yang kedua adalah sistem bendongan ataupun wetonan, metode ini juga bisaa di sebut sistem belajar mengajar secara kolektif, yang mana di dalamnya terdapat sekelompok murid antara 5 sampai dengan 500 mendengarkan seorang Kiai ataupun ustad yang membaca, menerjemahkan, mengulas buku-buku dalam bahasa arab. Kelompok dalam sistem bendongan itu sendiri di sebut halaqoh yang artinya lingkaran murid ataupun kelompok  santri yang belajar. Kedua metode tersebut juga mempunyai fungsi dan kelebihan masing-masing. Sistem sorogan itu sendiri lebih digunakan pada santri yang baru dan memang memerlukan bimbingan. Sementara  yang kelas bendongan tersebut di gunakan sebagai metode lanjutan, karena yang bisa menguasai metode sorogan lah kemudian bisa menguasai bendongan di pesantren.

Di dalam sebuah pesantren juga ada kelas musyawarah atau kalau sekarang bisa disebut presentasi dan diskusi. Dalam suatu diskusi tersebut tentulah ada interaksi antara para santri. Mereka saling melontarkan pertanyaan, ide, gagasan atau yang lainnya sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan. Diskusi semacam ini dimaksudkan agar para santri mampu menangkap dan menelaah dari apa yang telah di kajinya. Nuansa diskusi tersbut kadang juga berlangsung panas karena saling adu kekuatan dalam berargumentasi. Kepahaman akan materi yang  disampaikan menjadi sangat penting karena ini juga unsur penting dalam diskusi tersebut. Selain itu maksud lain dari proses ini adalah untuk melatih mental  para santri itu sendiri.

Setiap pesantren pastilah tidak hanya ada satu orang Kiai, tetapi Kiai tersbut dibantu oleh beberapa orang yang turut menjadi pendidik ataupun ustad di pesantren tersebut. Biasanya dalam suatu pesantren ada Kiai utama (Mudir), Kiai muda, asatid, santri senior dan santri yunior. Mereka semua rata-rata bermukim dalam satu pesantren, selain itu mereka juga mempunyai tugas dan wewenang masing-masing. Pesantren juga bisa disebut suatu sistem masyarakat yang sempurna, karena di dalamnya terdapat proses transfer nilai yang baik,diantaranya proses keteladanan yang didapatkan dari para Kiai ataupun asatid mereka. Di dalam pesantren, santri juga dididik untuk menanamkan jiwa kesederhanaan, keikhlasan, ukhuwah Islamiyah, bebas selain itu mereka juga di latih dalam kemandirian.
*Anggota Bidang Kader PDPM

Posting Komentar untuk "Kontribusi Jaringan Pesantren & Islamisasi Nusantara (3)"