Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyeimbangkan Pemuda Muhammadiyah Dengan Yin-Yang & Kufu'

Dalam waktu yang kurang dari sebulan Pemuda Muhammadiyah akan punya gawe yang cukup menyita perhatian semua insan Pemuda Muhammadiyah. Tentu semua pihak sangat berkeinginan untuk andil dalam mensukseskan penyelnggaraan Musyda kali inu--bagaimanapun caranga.

Hingga detik ini memang banyak nama beredar yang diduga kuat bakalam mengisi 13 formatur. Nampaknya sudah ada yang bergerilya untuk menggalang dukungan ke tingkat bawah--bentuknya ada yang konsolidasi, kajian, atau sekedar anjang sana serta silaturahim.

Gayung bersambut, sejak digulirkannya wacana Musyda hingga penentuan tanggalnya--para Pemuda Muhammadiyah di tingkatan cabang mulai bergeliat. Padahal sebelum-sebelumnya beberapa cabang mengalami kevakuman bahkan bisa dikatakan hidup segan mati tak mau.

Persoalan yang menimpa PCPM ini didominasi oleh kurangnya kaderisasi di level cabang. Padahal di beberapa cabang tersebut memiliki AUM yang cukup besar. Tentu masih banyak masalah lain yang saya kira tidak perlu dibahas di sini.

Nah, dalam rangka memilih pimpinan agar kedepan bisa berjalan secara seimbang dan dinamis maka menururt saya ada dua hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, Yin &Yang--barangkali masih begitu jarang diantara kita yang mendengar konsep yang berasal dari Tiongkok ini. Yin dan Yang memiliki arti bahwa suatu hal tak bisa berdiri sendiri tanpa didampingi oleh hal lainnya yang berkebalikan. Seperti cahaya dan gelap, baik dan buruk, serta pria dan wanita. Dengan melihat dari kedua sisi yang berbeda tersebut, maka kehidupan baru dapat berjalan secara seimbang.

Secara filosofis, konsep ini sangat penting bagi keberlangsungan dalam membangun Pemuda Muhammadiyah kedepan. Maka komposisi dalam kepemimpinan kelak perlu dipertimbangkan banyak aspek. Sebagai prasyarat menjadi Pemuda Muhammadiyah memang harus bisa membaca Al-qur'an--tentu hal ini tidak bisa ditawar lagi. Karena kita pemimpin bagi ortom lain. Berikutnya hal lain barangkali masih bisa ditentukan kadarnya. Misalkan kemampuan, komunikasi, jaringan dan lain sebaginya.

Oleh karenanya merupakan tindakan banal ketika seseorang hanya memimpikan Pemuda kedepan dipimpin oleh segolongan atau sekelompok orang yang dalam tanda kutip hanya bisa mengaji saja atau sejenisnya. Saya bukan membenci hal baik, hanya saja setiap kepemimpinan diperlukan keseimbangan. Kita juga bisa melihat hal yang terjadi ketika kepimpinan didominasi oleh satu kelompok, maka hasilnya stagnansi karena ada hal yang tidak seimbang. Contoh di depan kita sudah terlalu banyak untuk disebutkan, maka dalam unsur kepemimpinan ya harus ada leader, jiwa wirausaha, intelektual, ulama, politisi, akademisi, sosial, hukum, dan lain sebagainya. Namun yang saya maksud politik disini bukan makelar politik yang sedang merajalela itu

Kedua, Sekufu atau sepadan Dalam fikih pernikahan (kalau tidak salah) disebutkan bahwa kufu ini juga aspek yang cukup penting untuk diperhatikan. Lagi pula sekufu atau sepadan ini mungkin bisa ditafsirkan dalam tradisi kepemimpinan Muhammadiyah sebagi bentuk kepemimpinan kolektif kolegial. Maksudnya sistem kepemimpinan dimana pengambilan keputusannya dilakukan secara musyawarah bersama-sama (kolektif) yang mana dalam hal ini semua anggota dan pengurus harus ikut terlibat secara langsung.

Maka dalam hal ini tidak ada atasan dan bawahan, mandor atau kuli, bos anak buah. Maka ketika model otoriter, sikap individualistik, serta pengen diuwongne tidak akan berlaku dalam sistem ini. Orang yang memiliki sikap semacan itu justru akan akan bunuh diri jika masuk dalam kepemimpinan macam ini, Karena semua merupakan pemimpin, maka semuanya bertanggungjawab atas amanah yang diemban. Baik itu ketua, sekretaris, bendaraha, atau anggota.

Barangkali dua aspek tersebut perlu dipertimbangkan agar Pemuda Muhammadiyah kedepan mampu berjalan dengan dinamis dan seimbang. Hal lain sangat penting untuk setelah menjadi pimpinan ialah bahwa tugas berat Pemuda Muhammadiyah selian sebagai pelangsung dan penyempurna, maka juga berperan sebagai penjaga ideologi. Ditengah adanya pasar bebas ideologi, maka Muhammadiyah juga masuk dalam pusaran tersebut. Untuk itu jika tidak hati-hati maka para anggota akan tergelincir kedalam pusara ideologi transnasional, komunis, ataupun ideologi sejenis yang bertentangan secara diametral dengan Islam ataupun Muhammadiyah. Untuk itu kedepan perlu dirumuskan kembali hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah yang cukup pelik dan sesak ini.
[ kolom by : Agus supatma | pemudamu.com ]

Posting Komentar untuk "Menyeimbangkan Pemuda Muhammadiyah Dengan Yin-Yang & Kufu'"