Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kader Profesional dan Profesional Kader, Abdul Rhosid

Kader Profesional dan Profesional Kader, Abdul Rhosid
Ilustrasi

Sebelum berbagi pandangan perihal realitas perkaderan di Persyarikatan Muhammadiyah, penulis ingin bernostalgia dengan pesan KH Ahmad Dahlan: “hendaklah warga muda-mudi muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan dimana dan kemana saja. Jadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan profesional lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu”.

Jimat ini menjadi mantra bagi Sebagian kalangan muda Muhammadiyah untuk tetap mencari ilmu dan mengembangkan potensi diri, lalu kembali berkhidmat kepada Muhammadiyah. Tidak jarang dari kalangan muda Muhammadiyah yang merelakan apa yang dia miliki untuk bisa menyelesaikan Pendidikan Tinggi, untuk bisa menjadi orang professional dibidangnya dalam rangka mencukupi kebutuhan sumber daya kader di Muhammadiyah. Dalam realitanya, tidak banyak kader yang kemudian bisa terserap dalam rumah besar Muhammadiyah, terlebih di amal usahanya, baik Kampus, Klinik, Rumah Sakit, Sekolah,dan lain sebagainya. Dan kemudian para kader ini tidak gampang patah semangat dan bersedih hati apalagi mengeluh karena belum terserap di AUM, para kader ini kemudian bertarung dan mencari aktifitas di Lembaga lain dan tetap berkhidmat di Muhammadiyah. 

Namun sebenarnya menjadi kader Muhammadiyah itu mudah, dalam versi beberapa orang, cukup menjadi pejabat publik seperti anggota dewan, ketua LSM, Dirut Bank, Birokrat dan lain-lain. Maka akan di gaung-gaungkan bahwa inilah kader, walaupun yang bersangkutan belum menyelesaikan atau bahkan tidak pernah berproses di perkaderan dan bahkan hanya mengenal Muhammadiyah dari luar.

Tidak ingin bergelisah dengan fenomena itu penulis ingin berbagi pandangan bahwa otentik itu perlu, walau terkadang menimbulkan fanatik. Sebab jika tidak ada yang ontetik maka wajah kader itu akan sama semua (samar) bahkan cenderung abu-abu, tidak ada bedanya dengan kader yang tidak proses dan kader yang benar benar berproses. Tentunya meraka yang berangkat dari ORTOM dan berproses secara runtut sesuai sistem perkaderan masing-masing ORTOM, akan berbeda dengan mereka yang berangkat dari amal usaha, yang dimana mengenal Muhammadiyah setelah mereka bekerja. Namun yang mencengangkan kedua kategori kader itu memliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan posisi di sebuah lembaga, seolah perkaderan yang begitu panjang di Organisasi Otonom tidak ada artinya. Sering kali para kader dihujani dengan kalimat tidak professional, padahal hanya belum diberi kesempatan. 

Pernah suatu ketika ada kader ORTOM yang runtut perkaderannya melamar pekerjaan di sebuah amal usaha untuk bagian tenaga teknis. Mulai dari persyarata, tes tulis, tes ibadah, bahkan sampai wawancara mendapatkan nilai yang hampir sempurna dan menunjukkan benar-benar kader yang otentik. Tetapi dalam amal usaha tersebut ada proses yang istilahnya magang pra kontrak. Di proses tersebut kader dinilai aktifitasnya selama kurang lebih 3 bulan. Apesnya kader ini harus mendapatkan nilai tidak lulus karena dianggap selama magang tidak profesional. Pertanyaannya adalah jika profesionalisme kader diukur hanya 3 bulan, maka apakah kita boleh mengukur ke-Muhammadiyah-an pegawai AUM yang sudah bekerja 3 bulan. Tentu jawabannya kita semua sudah bisa membayangkan, bahwa menanamkan pemahaman dan Idiologi Al Islam dan Kemuhammadiyahan tidak seperti halnya transaksi kredit alat elektronik yang bisa dengan mudah tanpa DP bisa dibawa pulang.

Hal sederhana yang harus dilakukan siapapun yang terpilih menjadi pimpinan persyarikatan Muhammadiyah di segala tingkatan adalah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada para kader yang sudah berproses di ORTOM untuk menjadi pelangsung dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah. Kesempatan artinya mengawal betul ketika ada kader yang potensial untuk bisa masuk ke AUM. Itupun semua kader sepakat bahwa tidak harus langsung menjadi pimpinan AUM, tetapi berproses dari bawah dan mengasah profesionalisme. Selanjutnya memberikan kepercayaan kepada pra kader, bahwa mereka mampu dan bisa untuk menjadi pelangsung-penyempurna amal usaha.

Terkahir yang perlu penulis sampaikan kepada semua Pimpinan Muhammadiyah maupun Pimpinan AUM, bahwa ibarat peribasa mengatakan tidak ada gading yang tidak retak. Begitupun kader ORTOM ini juga manusia biasa yang jauh dari sempurna, maka jika ada yang berbuat kesalahan jangan di generalisir semua kader salah. Bisa jadi menurut hemat penulis, kesalahan yang dilakukan kader dikarenakan kurangnya perhatian Pimpinan Muhamamdiyah dalam mengawal proses perkaderan. Cara cek nya sederhana dan mari kita renungkan bersama, berapa jumlah kader yang sudah dibina, didampingi bahkan seharusnya secara detail kita punya data rumahnya mana, keluarganya bagaimana, dan data lainnya. Sehingga selanjutnya tinggal diasporanya kemana saja dikawal sampai sukses. [*]

Abdul Rhosid, Ketua Bidang Pendidikan & Kaderisasi PDPM Ponorogo


Posting Komentar untuk "Kader Profesional dan Profesional Kader, Abdul Rhosid"