Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kado Musywil 16, Suparno : Hadirkan Da'wah Cerdas Berkemajuan Dengan TV Berita Yang Independen

Kado Musywil 16, Suparno : Hadirkan Da'wah Cerdas Berkemajuan Dengan TV Berita Yang Independen
Suparno M Jamin, di Kantor pribadi

Kado untuk Muhammadiyah, hadirkan gerakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar dengn cerdas dab berkemajuan melalui TV Berita Yang Independen dan Imparsial, oleh Suparno M Jamin, Pakar Hukum Senior.

Bangsa ini lahir dari rahim Umat Islam. Umat yang lugu dan polos. Bayi NKRI terus dirawat dan diasuh dengan penuh kasih sayang. Dengan segala pengorbanan. Ketika masih balita bayi NKRI dibelikan pesawat. Pesawat sungguhan. Bukan pesawat mainan. Pesawat hasil patungan warga muslim serambi Mekah.

Sampai usia balita diasuh oleh umat islam. Begitu memasuki usia pra remaja mulai diasuh oleh beberapa asisten rumah tangga, kemudian dibantu oleh beberapa tamu yang berdatangan. Yang menumpang di rumah bagian depan.

Memasuki usia pra remaja, wajah NKRI semakin elok dan menawan. Seakan memiliki magnit tersendiri. Berbeda dengan anak seusianya. Membuat semua orang terpesona. Banyak tetangga sebelah yang jatuh hati padanya. Mereka ingin merawat dan memeluknya setiap hari..

Itu semua hanya sebuah kiasan.  Untuk memotret negeri tercinta ini apa adanya. Dari perspektif sejarah.  Dengan harapan bisa dijadikan ibrah bagi umat Islam yg lugu, polos dan terlalu ikhlas ini. Selanjutnya dari ibrah tersebut bisa memetik hikmahnya, aamiin.

Sebagian umat Islam, atau mungkin sebagian besar umat Islam, tidak banyak faham tentang dinamika sejarah panjang berdirinya negeri ini, karena banyak peristiwa sejarah NKRI tidak terdokumentasikan secara baik. Diantaranya ada yang raib dan tercecer. Bahkan ada tokoh yang dimanipulasi dan dibelokkan.

Gejala ini mulai terendus  dan menjadi perbincangan publik setelah munculnya buku KAMUS SEJARAH INDONESIA, yang diinisiasi oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan. Mengapa hal ini terjadi. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk menjawabnya.
Tapi semua diam, dan diam. Kecuali sebagian kecil saja. Selebihnya. Pura-pura tidak tahu. Yang penting tetap nikmat dan selamat.

Akibatnya apa yg terjadi? Kesenjangan semakin lebar dan menganga. Keadilan terampas dan terhempas. Kemungkaran semakin merajalela. Banyak darah tertumpah dan nyawa terampas. Seakan peristiwa yang pernah terjadi di Ambon, Poso, Papua, Jawa dan seterusnya, telah ter-lupakan semua. Tidak menjadi bahan ajar dan perenungan.

Akhir-akhir ini, betapa sulitnya menjadi orang yang kritis dan benar. Banyak orang yang bersih dan jujur, semakin susah. Mereka semua dibungkam. Seakan mereka menjadi musuh bersama bagi rezim durhaka. Kebenaran hanya ada di tangan rezim penguasa. Didukung oleh para pendengung, yg terdiri dari pasukan buzzer rupiah pemecah belah ukhuwah. Sungguh sangat miris...

Pasukan buzzer ini hadir hanya untuk melindungi rezim yang gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Oleh karena itu jangan terkejut jika suara kebenaran dibungkam dan dikanvaskan. Semua itu merupakan ritual politik yg bersifat wajib, bagi semua makmum rezim hari ini, termasuk makmum masbuk.

Bagi para buzzer tdak ada yang haram untuk melakukan apapun, asal untuk kepentingan majikan politiknya, yang penting majikannya aman dan rupiah terus mengalir. Mereka rela untuk mengkhianati negaranya.

Jangan harap para buzzer mau berteriak-teriak ketika  berbagai skandal  besar sedang terjadi, yang dilakukan justru  berbohong ria  memfitnah, membully dan  memutar balik fakta.

Hal ini terbukti ketika telah terbongkar berbagai skandal besar, mulai dari mafia hukum, judi, narkoba,  korupsi dan rekening gendut atas nama seorang brigadir polisi, yang jumlahnya sangat fantastis, yaitu sebesar  Rp. 999.999.999.999.999,-- pasukan buzzer  diam sejuta bahasa.
Sementara pejabat yang bersih, smart, jujur, istiqomah dan memiliki rekam jejak yang baik, yang ditunggu-tunggu dan dicintai rakyatnya dari berbagai daerah suku, agama,  justru difitnah dan dibully ramai-ramai

Siang dan malam gerombolan ini terus mendengung tanpa etika dan moral. Hati, mata, telinga dan otaknya telah tersandera oleh segepok uang (Q.7.:176, 179).

Ironisnya mereka itu seakan mendapatkan jaminan immunitas hukum atas segala tindakannya. Indikatornya semua pengaduan terhadapnya nyaris tidak ada tindak lanjutnya.

Menyikapi hal ini, umat Islam harus bersatu, jangan membanggakan jumlahnya, sebagaimana pasukan  jahiliyah dari Mekah pada saat perang Badar, yang dikalahkan oleh pasukan muslimin yg jumlahnya jauh lebih kecil, dengan minim peralatan tempur.

Umat Islam jangan terlalu membanggakan jumlah. Apalagi tidak mau menerima masukan. Masing-masing terlalu ge er, atau maaf merasa paling pintar. Pada hal di dunia ini, tidak pernah ada manusia yg serba tahu.

Kita ini sesungguhnya hanya dipercaya memiliki sedikit ilmu.Tidak lebih dari SEBUTIR PASIR di tengah-tengah padang pasir yang luas. Tidak boleh sombong, meski menyandang sederet gelar Prof Dr. Ir. dr. dst.  Itu terlalu kecil.

Ingat, sekalipun ranting-ranting pohon dijadikan pena, lautan dijadikan tinta, dan ditambah tujuh kali lipat dari itu, manusia tak akan sanggup menuliskan kalamullah (Q.31:27).

Dalam filsafat kue Jemblem, kita bisa banyak belajar. Kue jemblem tidak akan jadi jemblem tanpa kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu dan profesi. Banyak yang tidak sadar, bahwa untuk menghadirkan  sebuah kue jemblem saja membutuhkan keringat jutaan atau bahkan miliaran umat manusia yang hidup di muka bumi ini.

Mungkin para pembaca tulisan ini banyak yang tidak percaya..

Kalau nggak percaya, coba analisis proses kolaborasi dan kohesi pembuatan sebuah kue jemblem, mulai dari penyiapan lahan sampai dengan siap dinikmati.

Mari kita buktikan, siapa yang menanam singkong, berarti butuh keringatnya petani. Siapa yang buat cangkul, berarti butuh keringatnya tukang pande besi. Siapa yang membuat bahan baku cangkul, alat-alat dapur, alat-alat angkut, mulai dari gerobak, becak, motor, mobil, kapal, kereta, dan pesawat. Semua itu butuh keringatnya banyak pakar, dan profesi. Bahkan ketika di tengah jalan mobil atau motor kempes, butuh keringatnya tukang tambal ban, dst. Saatnya umat Islam membangun  kolaborasi antar elemen anak bangsa (Q. 3 : 103).

Singkatnya mau makan kue jemblem saja kita harus berkolaborasi. Apalagi ngurus rakyat dan  umat, maka bersatulah jangan cerai berai.      

Jangan terlalu ge er, meskipun ketika kuliah IP semuanya A, dengan predikat suma cum laude. Itu semua terlalu kecil  (Q.31: 27). Hanya assesoris saja. Hanya tipu daya.

Nggak percaya.....!

Kumpulkan seluruh pakar terkemuka yang ada dunia ini, coba suruh buat ekornya semut,  atau rebut kembali  makanan yang dibawa kabur oleh lalat yang baru hinggap di piring kita (Q.22 : 73). Dipastikan tidak bisa. Apa lagi yang mau disombongkan.

Untuk itu, saatnya umat Islam segera bangun silaturrahim. Rajut tali  persatuan dan kesatuan(Q.3:103)   Sebaiknya semua partai Islam, segera melakukan fusi. Termasuk partai yang tidak lolos verifikasi. Jangan mau diadu domba oleh gerombolan pengkhianat yang berkolaborasi dengan kekuatan global yang anti islam dan rakus.

Para pemimpin muslim harusnya segera sadar, jangan asyik dengan dirinya sendiri. Lihat tuh.... banyak ulama dan tokoh muslim didzalimi oleh penguasa semua diam, nyaris tidak ada yang bersuara. Kecuali hanya satu, dua orang.  

Sedangkan musuh-musuh Islam terus berkolaborasi dengan berbagai kekuatan dan cara, diantaranya memecah belah dan mengadu domba umat. Kemudian untuk memperlancar misi mereka, umat Islam dilabeli dengan berbagai label, seperti ekstremis, fondamentalis, teroris, anti Pancasila, anti  NKRI, dst.

Kini saatnya umat Islam, melalui Musywil ke 16 Muhammadiyah Jatim yang akan dilaksanakan di Ponorogo, segera melakukan penguatan da'wah amar ma'ruf nahi munkar,  yg cerdas dan berkemajuan. Melalui hadirkan TV BERITA yang INDEPENDEN dan IMPARSIAL, jangan mau umat Islam dijadikan bulan-bulanan media sekuler. Dan juga jangan sampai  NKRI yang lahir dari rahim umat Islam ini, jatuh di bawah pelukan tetangga sebelah.

Sudah saatnya Persyarikatan Muhammadiyah bangkit, menjadi lokomotif berita yang jujur dan aktual (Q.2 : 30 -  36). Menjadi umat yang terbaik dan pemenang (Q.3. : 110), bukan sebaliknya (Q.9: 67, 68). SELAMAT MUSYWIL KE 16, semoga menghasilkan yang terbaik untuk umat, negara dan bangsa, aamiin.
 
19/12/22 Suparno M Jamin,(Cantrik Manguyu Jejanggan). [*]

Posting Komentar untuk "Kado Musywil 16, Suparno : Hadirkan Da'wah Cerdas Berkemajuan Dengan TV Berita Yang Independen"