Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prof Agus Purwanto: Ketum Baru PWM Jatim

Prof. Dr. Agus Purwanto, D.Sc, Dosen fisika teori ITS, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim

Di antara semua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), PWM Jatim-lah yg pertama menyelenggarakan Musyawarah Wilayah (Musywil) pasca Muktamar ke-48 pada 18-20 Nopember 2022 di Solo. Musywil Muhammadiyah Jatim ke-16 diselenggarakan satu bulan sepekan setelah Muktamar yaitu 24-25 Desember 2022 di Ponorogo.

Seperti halnya Muktamar, dalam Musywil disampaikan laporan pertanggungjawaban, dibahas program utama lima tahun ke depan dan pemilihan pimpinan 13. Dari 13 pimpinan terdahulu hanya tujuh yg siap bertahan, enam sisanya harus diisi orang baru. Dua karena wafat, satu masuk ke 13 Pimpinan Pusat (PP) dan tiga tidak lagi bersedia dicalonkan. Maka minimal harus ada enam sosok baru yg mengisi formulir kesediaan.

Tujuh nama yang harus bertahan untuk menjaga kesinambungan program yaitu : Prof Biyanto, guru besar UINSA, Prof Thohir Luth guru besar UB, Dr Sukadiono rektor UM Surabaya, Dr Hidayatullah rektor Umsida, Dr Sulthon Amien Ketua BPH UM Surabaya, Dr Syamsuddin UINSA, Ir Tamhid Masyhudi Sekum PWM.

Enam sosok baru bisa diperkirakan dari nama yg mengisi formulir kesediaan, entah siapa saja. Sekedar menyebut nama populer dari majelis yaitu : Dr Moh Solihin, Dr Arbaiyah, Dr Nurhakim, Dr Boy Pradana, Dr Choirul Mahfudz, Dr Mudzakkir dan masih banyak lagi.

Tidak tahu apa PWM akan menggunakan pendekatan ala PP yaitu nama-nama calon baru dibuka jelang sidang Tanwir atau dibuka lebih awal sehingga ada sedikit keramaian.

Apa pun itu, saya ingin melihat tempat Musywil diselenggarakan, Ponorogo. Adalah fakta bahwa Ponorogo dengan Gontor nya, menjadi kiblat dunia pesantren. Sebagai contoh, Gontor sangat dikenal di Malaysia, alumni Gontor dikenal dalam hal kepiawaian  berbahasa Arab secara oral.

Nah, Muhammadiyah bukan organisasi sosial meski mempunyai majelis penolong kesengsaraan oemat (PKO), Muhammadiyah juga bukan lembaga ekonomi meski mempunyai majelis ekonomi. Demikian juga, Muhammadiyah bukan lembaga pendidikan dan kebudayaan meski mempunya majelis pendidikan dengan ribuan sekolah dan ratusan perguruan tinggi serta lembaga seni dan budaya. Muhammadiyah adalah gerakan Islam Pembaharu.

Karena itu orang nomor satu Muhammadiyah idealnya dari Majelis Tarjih dan Tajdid yang memahami ruh dan spirit pembaharuan Muhammadiyah, dinamika pemikiran Islam secara umum dan fasih berkomunikasi dalam Bahasa Arab. Itu idealnya dan harus diperjuangkan format ideal tersebut. Bahwa Muhammadiyah yang hidup di alam modern membutuhkan sosok manajer handal itu juga harus dipenuhi dan relatif telah dipenuhi. Tenaga-tenaga dengan kualifikasi yang terakhir ini cukup melimpah di Muhammadiyah.

Nah, mumpung Musywil-nya di Ponorogo kotanya Gontor, kota yg melahirkan muslim fasih berbahasa Arab, ada baiknya nanti Ketum PWM Jatim terpilih untuk periode 2022-2027 memberi sambutan sekitar 10 menit dalam bahasa Arab. Tidak penting warganya langsung mengerti apa tidak, toh ada rekaman sehingga bisa didengarkan lagi nantinya sambil dilengkapi dengan teks terjemahan. Intinya, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Pembaharu perlu ditampilkan baik secara simbolik dalam pidato Ketum maupun secara praktis via Amal Usaha Muhammadiyah nantinya.

Selamat bermusywil

Selamat bergembira 

Selamat memajukan Jawa Timur.[*]

Penulis : Prof. Dr. Agus Purwanto, D.Sc

Kontributor : Agus Patma | Editor : Agus Ismail | Red.

Posting Komentar untuk "Prof Agus Purwanto: Ketum Baru PWM Jatim"