Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PWM Jatim Periode Depan Menanggung Banyak Isu Klasik

kesenjangan dunia pendidikan muhammadiyah
Ilustrasi kesenjangan sosial, foto:CNBC

Tahniah untuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim yang akan mengadakan Musywil ke 16 di Ponorogo. Alhamdulillah, semoga lancar dan berkah. Selanjutnya apa yang akan menjadi isu penting lima tahun ke depan di PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, red) Jatim? Harapan para aktifis Muhammadiyah di grassroot tidak muluk-muluk sih, tidak sampai berpikir untuk membeli Gereja di luar negeri, sementara di wilayahnya saja masih jauh dari standar layak untuk dikatakan sebagai Amal Usaha yang berkemajuan. 

Sudah banyak isu klasik di berbagai level pimpinan dan dari periode ke periode pimpinan yang belum menunjukkan signifikansinya. Misalnya mengenai Amal Usaha bidang Pendidikan yang mengalami "gizi buruk", laa yamuutu walaa yahya. Hingga saat ini seperti belum ada penanganan yang serius. Bagaimana nasib sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah yang gedungnya tidak layak, gurunya tidak mumpuni, muridnya sedikit bahkan itu pun tidak kopen, para fungsionaris majelis dikdasmen setengah hati, sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dinasnya masing-masing. Lagi-lagi hanya bisa berharap, semoga Musywil kali ini menjadi tonggak awal kebangkitan Pendidikan Muhamamadiyah di Jawa Timur. 

Persoalan tanah wakaf Muhammadiyah masih banyak yang terbengkalai, seakan menjadi kesenangan tersendiri bagi pimpinan Muhammadiyah Ketika menerima tanah wakaf padahal akhirnya juga nganggur. Anehnya gerakan untuk mewujudkan pendidikan pengelolaan asset wakaf bagi generasi muda Muhammadiyah masih sangat minim sekali. Bahkan asset wakaf yang belum diurus aktanya di BPN/ATR juga masih banyak, sementara yang mau dan mampu mengurus masih sangat sedikit. Padahal ini sangat membahayakan Muhammadiyah dari sisi amanah dihadapan Alloh SWT, dari sisi kepercayaan umat dan dari sisi keamanan asset. 

Bonus demografi saat ini juga belum dapat ditangkap peluangnya oleh Muhammadiyah, di mana anak muda remaja yang sudah masuk generasi Z atau sebagian masih milenial ini belum dapat didekati secara efektif oleh muballigh-muballigh Muhammadiyah. Kemampuan Muhammadiyah menyiapkan muballigh kekinian dan berkemajuan masih sangat kurang. Sementara di gerakan lain mereka sudah mengambil kesempatan ini dengan cukup massif, baik dalam bentuk mobilisasi aktifitas keagamaan maupun dalam bentuk mobilisasi sosial. 

Jalur kaderisasi formal-struktural seperti ORTOM masih belum bisa singkron dengan sistem rekrutmen tenaga professional di Amal Usaha Muhammadiyah, sehingga masih saja menjadi kenyataan kader tidak bisa diterima di AUM sementara orang luar karena unsur nepotisme dengan pengambil kebijakan di AUM dan alasan nanti dapat dikader di dalam AUM bisa diterima. Gerakan kaderisasi melalui Amal Usaha Muhammadiyah juga tidak singkron dengan kaderisasi di ORTOM, apakah karyawan AUM itu masuk menjadi anggota Pemuda/NA, atau langsung di Muhammadiyah tanpa jenjang ORTOM, juga masih belum dapat diatasi. Bahkan ada amal usaha di bawah penyelenggaraan PWM tidak bisa singkron dengan PDM setempat, padahal bukan soal menang-kalah tetapi memang kolaborasi masih belum menjadi pilihan Muhammadiyah.

Masalah lain, daya redam dan daya rekat pimpinan Muhamamdiyah kepada kader yang memiliki pendapat berbeda masih sangat kurang, sehingga pimpinan di berbagai level masih seperti alergi dan panik dengan pendapat yang berbeda, kritik yang muncul dari bawah apalagi anak muda, mereka lupa bahwa dulu mereka pernah muda, atau bisa jadi memang tidak pernah berangkat dari kaderisasi, wallohu a'lam. Bahasa pengamanan di dalam AUM maupun pimpinan sering kali muncul, untuk mengamankan apa dan siapa juga masih ambyar, bisa jadi juga kepentingan orang tertentu, khususnya di AUM sering begitu, sehingga tidak jarang person yang sudah tidak lagi mampu untuk menjalankan amanah dengan baik di AUM atau di level pimpinan Muhammadiyah tetap saja dipertahankan dengan alasan pengamanan. Padahal sikap seorang yang otoriter lah yang ditangkap oleh civitas AUM atau pun kader-kader ortom. 

Persoalan yang tidak kalah penting dari sisi akademik, peletakan kerangka akademik secara filosofis dan metodologis mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Amal Usaha Muhammadiyah masih belum ada, sehingga Amal Usaha Muhammadiyah dikembangkan masih sebatas mengikuti standar pemerintah belum memiliki keunggulan dari sisi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Masih banyak pegawai/karyawan di Muhammadiyah yang mengabaikan shalat, berpikir liberal, mengembangkan keilmuan yang tidak berdasarkan AIK bahkan AIK masih dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang diajarkan di Pendidikan atau materi kaderisasi saja belum menjadi dasar dari semua aktifitas keilmuan maupun pengembangan AUM. 

Pekerjaan rumah pimpinan wilayah ke depan masih banyak, yang kami sampaikan ini masih sebagian kecilnya. Sementara itu, tiga belas kursi kosong (bukan 6 lo ya) masih harus diisi secara hati-hati, tidak bisa sembarangan, tidak bisa dijadikan bahan nepotisme perkoncoan atau kolusi atas dasar jarak tempuh ke kantor PWM. Muhammadiyah benar-benar membutuhkan kerja nyata, karena di level bawah sangat berat menjalankan roda organisasi, dakwah, pendidikan, belum lagi konflik sosial,perbedaan parpol dan lain-lain. Jika pimpinan tidak tepat, tidak ramah ke bawah, lima tahun ke depan bisa jadi tidak akan lebih baik dari sebelumnya. Wallohul mus'ataan. [*]

Penulis : Rohmadi Edogawa, anggota KOKAM Ponorogo

Posting Komentar untuk "PWM Jatim Periode Depan Menanggung Banyak Isu Klasik"