Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Kedaulatan Tergadai Di Tangan Badut Politik

Ketika Kedaulatan Tergadai Di Tangan Badut Politik
Ilustrasi

Banyak peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dimulai dari negeri 1001 malam (Irak), Iran, Libya, Syiria, Afganistan, dst, akan tetapi umat Islam tetap saja cerai berai. Tidak mampu memetik hikmahnya.

Akibatnya peristiwa serupa terus terjadi berulang-ulang. Seakan-akan masa bodoh, tidak pernah sadar, dan tidak mau berubah. Dari waktu ke waktu terus diadu-domba, dikileni, dan di pinggirkan secara sistematis.

Tidak jarang dijadikan "Tersangka abadi". Abadi sebagai kaum radikal, kaum ekstrem dan teroris. Berpolitik dengan menggunakan identitas Islam juga dicurigai, dikuyo-kuyo dan disudutkan. Pada hal dijamin oleh konstitusi atau hukum dasar.

Oleh karena itu,  Rasulullah saw, pernah mengingatkan kepada kita bahwa suatu saat, nasib umat Islam diibaratkan seperti tumpeng atau ambengan dalam sebuah gendurenan besar, meskipun umat Islam saat itu jumlahnya sangat besar. Karena umat Islam terlalu berlebihan dalam mencintai dunia dan takut mati.

Peringatan Rasulullah saw tersebut saat ini telah terbukti, salah satu indikasinya adalah, setiap lima tahun sekali kedaulatannya di gadaikan kepada para badut politik atau politisi bunglon, dengan uang sekitar 50 -100 ribu rupiah.

Uang gadai tersebut diperoleh  dari sumber yang halal atau haram, juga tidak banyak yang tahu. Itulah ciri-ciri dari politik tanpa identitas. Sulit dilacak dan sulit untuk diketahui. Seperti "gendruwo", menakut-kan . Bisa menghilang di tengah-tengah keramaian manusia advonturir.

Endingnya hak untuk mendapatkan kesejahteraan, keadilan, dan masa depan, juga telah tersandera dalam "gadai politik"  yg tak ber etika, tak bermoral dan tidak beridentitas, kecuali beridentitas sebagai badut politik.

Makanya umat Islam harus benar-benar melek politik.Tidak boleh alergi politik. Jikalau umat Islam tetap mengambil jarak dengan dunia politik, maka musuh Islam akan berjingkrak-jingkrak, karena "pulpen" tetap di tangan mereka.

Meski umat Islam jumlahnya mayoritas, tapi tanpa makna, nyaris mirip buih, yang terombang-ambing. Tanpa memiliki otoritas atau kekuasaan politik.  Umat Islam tidak sadar jika satu goresan tanda tangan beberapa pulau atau tambang bisa di take over.

Juga boleh jadi, cukup satu goresan tanda tangan, dua, tiga atau empat ORMAS bisa dibubarkan.  Mau ape?  Karena dalam dunia politik semuanya serba mungkin, tidak ada yang tidak mungkin.

Makanya umat islam harus melek politik, biar tidak dibohongi, ditipu, dan dikibuli dengan kepentingan sesaat. Sambil menunggu saat yang tepat.

Umat Islam boleh polos dan lugu, akan tetapi harus tetap cerdik dalam membedakan mana politisi yang bunglon, mana yang badut dan mana yang otentik, orisinel dan berpihak pada rakyat.

Jika salah pilih, suatu saat, boleh jadi semua yang merintangi akan di bubarkan dan digusur. Itulah watak politisi kompeni yang rakus dan bengis. Untuk itu sebelum jatuh cinta, lihat dulu rekam jejak yang ada.

Ingat kicauan sejuta pakar ternama tidak akan ada artinya "ketika sepucuk pulpen telah digoreskan".Sekali lagi, Ente mau ape?

Apakah sedulur-sedulur masih tidak mau tahu tentang politik? Sebagai  seorang Punokawan saya hanya mengingatkan, jangan GADAIKAN KEDAULATAN RAKYAT dengan kepentingan sesaat.  Berbahaya!!! [*]

Penulis : Suparno M Jamin


Posting Komentar untuk "Ketika Kedaulatan Tergadai Di Tangan Badut Politik"