Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lima Bahan Bahasan untuk Musyda Muhammadiyah Ponorogo

Lima Bahan Bahasan untuk Musyda

Dwi Bagus Irawan

Anggota Bidang Pendidikan Anggota PIMDA 023 Tapak Suci Ponorogo

Perhelatan Musyawarah Daerah Muhammadiyah Ponorogo tinggal menghitung waktu, sebagai sebuah agenda utama organisasi Musyda bukan hanya sebatas gelaran rutin guna proses pemilihan Pimpinan Daerah yang baru. Namun juga menjadi arena dan gelanggang adu gagasan untuk kemajuan dan pembaharuan serta arah gerak Muhammadiyah Ponorogo lima tahun mendatang. Kami berharap Musyda bukan menjadi sebatas gelaran acara mewah dengan segala gegap gempita ramai masa, namun sunyi gagasan dan argumentasi untuk membawa Muhammadiyah Ponorogo kedepan.

Berbicara tentang kebesaran dan kekayaan Muhammadiyah ponorogo tentu sudah tidak perlu ragu, sebagai salah satu keistimewaan Muhammadiyah kota Reog adalah kemampuanya dalam membesarkan amal usaha organisasi ditengah lautan masyarakat yang mayoritas bukan Muhammadiyah. Secara masa tentu Muhammadiyah Ponorogo tidak terlalu banyak, namun secara gerakan dan amal usaha menjadi salah satu organisasi yang diperhitungkan oleh seluruh kalangan masyarakat. namun apakah kita akan terjebak dengan pembangunan amal usaha dan puas dengan pencapain hari ini? Muhammadiyah adalah organisasi yang mengedapankan sikap pembaharu (tajdid), dan selalu menjadi yang mencerahkan (At Tanwir). konsep pembaharuan dan pencerahan kepada umat yang terus berjalan dengan berbagai gerakan dan amal usaha. Namun sekiranya perlu untuk ditarik kedalam tubuh Muhammadiyah sendiri, dalam pendek kata sebagai organisasi Tajdid kita juga perlu melakukan sebuah Tajdid Organisasi. 

Peristiwa Musyawarah Daerah menjadi sebuah momentum yang pas untuk memperjuangkan gagasan segar guna mengejawantahkan lebih kekinian Islam berkemajuan ala Muhammadiyah di Ponorogo yang tentu secara kebutuhan akan lebih kompleks dan memerlukan formulasi tersendiri. dalam kesempatan ini, kami menyampaikan lima bahan bahasan dalam Musyawarah, kelima bahasan ini merupakan hasil formulasi dari beberapa permasalahan dari pengamatan secara subyektif pribadi dan mungkin masih banyak salah serta kurangnya pengetahuan atas keadaan,  

1. Peremajaan majelis

Isu peremajaan majelis bukan barang baru dalam agenda Permusyawaratan Muhammadiyah dua Periode terakir, apalagi dengan munculnya pandangan banyak Majelis dan Lembaga di Muhammadiyah sebatas menjadi Majelis Ilo-ilo (dibentuk karena kewajiban organisasi, tapi kinerjanya tidak diketahui). 

Pada dasarnya konsep peremajaan majelis tidak hanya dengan mengganti pengurus semata, namun analisis jabatan yang mendalam berdasarkan pada kemampuan dalam penentuan structural, bukan sebatas kedekatan dengan pimpinan. Sehingga dapat menghadirkan majelis yang kompeten dan memiliki arah gerak yang jelas. 

2. Perkaderan bakat minat

Agenda Muysda menjadi wahana perumusan arah gerak kedepan, melihat kondisi masyarakat Ponorogo yang memiliki akar kebudayaan yang kuat PDM kiranya perlu merumuskan pendekatan Kultural yang lebih jelas dan dapat menghasilkan output nyata untuk Persyarikatan, pendekatan olahraga seperti SSB HW, kelompok tari, dan berbagai komunitas bakat minat lainya perlu mendapatkan ruang perhatian yang lebih. 

Menghadapi kondisi anak muda yang seperti saat ini, perlu kiranya dirumuskan perkaderan berbasis komunitas bakat minat yang matang. Mengingat basis masa komunitas bakat minat sebagain besar adalah masa cair yang tentu tidak bisa disamakan dengan konsep ketika berhadapan dengan masa IPM, IMM dll.


3. Perkaderan  lanjut Angkatan Muda

Sebagai bagian dari basis masa utama organisasi, Angkatan Muda Muhammadiyah sangat perlu untuk lebih diperhatikan kedepanya. Penguatan pemikiran Ideologi, Politik, dan Organisasi (IDEOPOLITOR) sangat mutlak agar AMM memiliki basis keberpihakan pada Persyarikatan yang jelas. 

Setelah perkaderan dasar, perlu kita membicarakan Perkaderan jangka menengah dan Panjang, sebagai upaya untuk menyiapkan Persyarikatan dimasa depan. Perkaderan jangka menengah dapat dilakuakn dengan melakukan pemetaan kader secara kompetensi dan minat, penguatan kapasitas dan arah kedepan sesuai dengan arah minatnya. Sehingga kedepan, setelah tahapan perkaderan dasar di Ortom, Kader Muhammadiyah memiliki perkaderan lanjutan yang terarah seperti kader Akademisi, Kader Politik, Kader Birokrasi, Kader Dakwah dan banyak bidang lainya, dengan harapan diaspora kader Muhammadiyah Ponorogo dapat berjalan dalam koridor yang terencana.

4. Pendekatan masyarakat Buruh, dan Jama’ah Tani

Ponorogo disamping terkenal sebagai kota santri dan budaya juga terkenal dengan kabupaten yang banyak menghasilkan Pekerja Migran, banyak sektor yang membutuhkan sentuhan Muhammadiyah seperti penguatan keluarga, pemberdayaan dan peningkatan keahlian setelah selesai masa kontrak, dan masalah yang ditimbulkan seperti kasus anak yang secara pengasuhan terlantar, perceraian, dan lain lain

Kedua adalah alternative pendekatan pada warga persyarikatan yang menekuni dunia pertanian, kita melihat bahwa petani merupakan pekerjaan sebagaian besar masyarakat Ponorogo, di Muhammadiyah tingkat pusat dan beberapa daerah sudah banyak berdiri Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). Kehadiran Muhammadiyah pada Jamaah persyarikatan yang konsen sebagai seorang petani di wilayah Ponorogo kiranya perlu dipikirkan, bagaimana kita dapat mensinergikan dengan AUM dan potensi yang ada, sehingga kedepan pemasok kebutuhan sayur dan beras untuk AUM-AUM kita semua berasal dari Jama’ah Tani Muhammadiyah Ponorogo. Tentu ini memerlukan bahasn yang mendalam, terkhusus dengan Majelis lembaga terkait (MPM, LAZISMU)

5. Manajemen Masjid dan TPA

Sebagai organisasi yang telah mengikrarkan diri sebagai gerakan Dakwah Islam Muhammadiyah perlu kiranya melakukan manajemen Dakwah yang baik, dalam ilmu dakwah setidaknya ada tiga komponen utama dalam Dakwah, pertama subyek dakwah, kedua obyek dakwah, dan ketiga lingkungan Dakwah. 

Lebih focus pada poin ketiga, Masjid dan TPA Muhammadiyah memang tumbuh dengan subur namun pengelolaan manajemen yang berlangsung selain pada urusan Wakaf secara subyektf saya pandang masih kurang mendapat perhatian yang lebih dari Pimpinan Persyarikatan. Sampai sekarang, kita agak kesulitan untuk mencari kurikulum TPA yang jelas dan merupakan produk dari Muhammadiyah, maka wajar jika kemudian banyak TPA/TPQ yang kegiatanya di Masjid bersetifikat Wakaf Muhammadiyah namun amaliyah Ideologi yang diajarkan sedikit berbeda. Perkaderan berbasis TPA/TPQ menjadi jalan alternatif ditengah kebuntuan dan kekurangan kita akan ulama dan kader dakwah berbasis Ranting.

Musyawarah yang akan berlangsung merupakan sebuah agenda penyegaran setelah tujuh tahun organisasi berjalan, besar harapan kami dari Musyda ke 11 ini menghasilkan banyak terobosan beru untuk gerakan dakwah Persyarikatan lima tahun mendatang. Semoga Musyawarah yang akan dilaksanakan pada 25-26 Februari 2023 dapat berjalan dengan lancar.


 Penulis: Dwi Bagus Irawan, Anggota Bidang Pendidikan Anggota PIMDA 023 Tapak Suci Ponorogo

Posting Komentar untuk "Lima Bahan Bahasan untuk Musyda Muhammadiyah Ponorogo"