Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemimpin Muhammadiyah Ponorogo Harus Peduli Kaderisasi Dan Pendidikan

Pemimpin Muhammadiyah Ponorogo Harus begini
Ilustrasi

Berbicara Muhammadiyah Ponorogo ada segelintir persoalan yang memang harus disadari bersama dan ditindaklanjuti melalui aksinyata bukan sekedar diskusi warung kopi belaka. Pertama Diskusi tantang krisis kader sudah mencuat beberapa taun terakhir, tokoh dari daerah sampai ranting istilahnya "sambat" cari kader kok sulit. Hal ini memang  menjadi dilema tersendiri bagi Muhammadiyah khususnya Ponorogo. Kata-kata "angel" akan terus bergema karena memang mereka "angel". logikanya adalah kader itu dibentuk bukan ditunjuk atau diakuisisi.  sekarang para PRM, PCM, bahkan PDM hari ini yang " sambat" kurang kader itu pernah tidak membentuk kader yang mereka inginkan, dididik, diayomi, diarahkan, sampai didiasporakan untuk meningkatkan peran Muhammadiyah  dalam sarana mencapai tujuan Muhammadiyah. hal demikian perlu diperhatikan secara saksama. 

Anehnya lagi para tokoh Muhammadiyah ini tidak lagi mendidik anaknya untuk jadi kader Muhammadiyah yang ideologis, saya katakan bukan tidak ada tapi sudah sedikit tokoh Muhammadiyah yang mengarahkan putra ataupun putrinya untuk sekedar ikut ber IPM, ber IMM, ataupun ber pemuda dan ortom-ortom lainnya. Tetapi jika ada amal usaha Muhammadiyah yang membutuhkan tenaga ahli dalam bidang tertentu dan "ngepasi" anaknya mampu, mereka berbondong-bondong merekomkan agar anaknya bisa ikut kerekrut. sedangkan kader yang notabene hidup dengan penuh ke ikhlasan membantu jalan dakwah Muhammadiyah walaupun perannya kecil hanya "usung-usung" tidak pernah diperhatikan. 

Hal demikian ini perlu tenaga ekstra dan kerjasama dari pelbagai pihak agar permasalahan ini dapat terurai satu demi satu, Mulai dengan pembangunan jangka panjang yakni dengan investasi SDM. skema beasiswa kader sangat diperlukan agar progam ini tepat dan pas dengan sasaran, saya adalah alumni beasiswa kader dari SMA Muhipo angkatan pertama, dari sekitar 50 an peserta hampir separuhnya hari ini mereka mengambil peran di persyarikatan, dan ikut serta dalam lingkaran gerakan dakwah Muhammadiyah. Kemudian jika tokoh-tokoh Muhammadiyah menagkap maksud dari investasi SDM ini maka Rumah sakit, lembaga pendidikan, dan amal usaha Muhammadiyah bidang ekonomi tidak lagi kekurangan kader ahli dibidangnya. Memang bukan perkara singkat seperti membangun gedung-gedung megah atau masjid megah yang singkat dan kelihatan hasilnya, tetapi butuh waktu dan proses yang lumayan lama tetapi mereka inilah yang nantinya akan “ngopeni” masjid-masjid ataupun amal usaha Muhammadiyah yang hari ini telah dibangun secara megah. Sederhanyanya  ketika amal usaha Muhammadiyah ataupun PRM – PDM mencari kader yang mampu “ngopeni” Muhammadiyah dalam jangka 5-10 tahun kedepan orang-orang yang disekolahkan dan dikomitmen ini siap, layaknya senjata hari ini kita perlu menyiapkan amunisi dahulu sebelum ditembakkan.

Kemudian masalah pendidikan, pertanyaannya sederhana “Berapa lembaga Pendidikan yang mampu menggaji tenaga pendidiknya dengan layak ?” Pendidikan hari ini bukan hanya sekedar ikhlas dan mengagungkan prinsip "Hidup hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah" memaknai Pendidikan itu bukan hanya ikhlas tapi pendidikan itu harus dikelola dengan baik layaknya perusahaan, dengan output orang-orang terdidik, masalahnya guru dan tenaga keoendidikannya sudah dibayar ikhlas maka hasilnya pun se ikhlasnya, (saya tidak meragukan kualitas pendidikan di Muhammadiyah,karena saya sendiri lahir dari produk pendidikan di Muhammadiyah) tapi masalahnya para pemimpin di Muhammadiyah Ponorogo ini sudah tahu bahwa kesehahteraan guru di Muhammadiyah ini minim,tapi diam dan diam,wacana hanya habis dimeja diskusi tanpa merambah pada sebuah aksi nyata. 

Perlu strategi untuk mengelola lembaga pendidikan ini agar dapat melahirkan produk-produk kader Persyarikatan Muhammadiyah. Karena sebuah ideologi mustahil dibentuk tanpa proses pembinaan. Sejauh saya melihat tokoh-tokoh Muhammadiyah hari ini yang mengambil peran di Pemerintahan, amal usaha, ataupun warga yang loyal dengan Muhammadiyah minimal mereka menempuh pendidikan di Muhammadiyah entah BA, SD/MI, ataupun perguruan tinggi. Maka lembaga pendidikan perlu diperhatikan khususnya dasar hingga menengah. Selama ini lembaga pendidikan di Muhammadiyah hanya menggantungkan hidupnya dari Panti Asuhan, berapa muridnya berdasarkan anak asuh di Panti Asuhan, bukan perkara yang buruk tapi kedepan hasilnyapun juga tidak maksimal karena dua lembaga ini memiliki peran yang berbeda dan aturan yang berbeda pula. 

Dalam kewirausahaan bidang pendidikan yang pernah saya pelajari di kampus bahwa dalam menjalankan lembaga pendidikan, lembaga pendidikan perlu mengedepankan mutu, dan produk atau output yang itu nyata dan dapat dirasakan minimal dengan orangtua. Kemudian saya juga melihat lembaga pendidikan kelompok sebelah memang pengorganisasiannya terbilang tertib dan jaminan gurunya pun terjamin. Hal ini perlu dihayati bersama untuk pemimpin Muhammadiyah Ponorogo kedepan, saya kira sadar, tahu dan diskusi wacana saja tidak cukup, perlu perumusan aksi nyata yang memang benar-benar mampu menjawab persoalan.

Dalam momen Musyda februari ini kita perlu sosok pemimpin yang bukan hanya sekedar memiliki ideology Muhammadiyah, tapi hadir ditengah-tengah persoalan dan mampu menjawab segala macam persoalan ini kedepan. Pemimpin yang mampu memprioritaskan kader, pemimpin yang mampu  mengakomodasikan keinginan kader, memberdayakan kader, dan menggerakkan kader untuk meningkatkan peran Muhammadiyah dalam masyarakat untuk saran mencapai tujuan Muhammadiyah. Apabila persoalan kader ini tidak segera dijawab maka Muhammadiyah akan kesulitan dalam menggapai dan memanfaatkan bonus demografi tahun 2045 mendatang.

fastabiqul khairat [*]

Penulis : Fendy Eko Hardiawan, Alumni Diklatsar KOKAM III


Posting Komentar untuk "Pemimpin Muhammadiyah Ponorogo Harus Peduli Kaderisasi Dan Pendidikan"