AUM: Menjadi Tenda Besar, Tanpa Harus Kehilangan Arah
Oleh: Rakyat Akar Rumput
Muhammadiyah telah lama mengukuhkan diri sebagai organisasi yang inklusif, sebuah "tenda besar" yang memberikan pelayanan tanpa sekat bagi kemanusiaan. Namun, keterbukaan ini membawa tantangan besar pada aspek disiplin organisasi. Di tingkat akar rumput, muncul kegelisahan bahwa inklusivitas yang terlalu longgar perlahan mulai mengikis marwah ideologi dan ketegasan garis instruksi pimpinan.
Jika menggunakan pendekatan komparatif, lembaga di luar Muhammadiyah umumnya sangat ketat dalam menjaga keselarasan SDM dengan budaya organisasi. Ketika seorang pegawai tidak lagi "satu shaf" dengan visi lembaga, sanksi administratif seperti SP3 akan turun dengan cepat. Hal ini dilakukan demi menjaga integritas institusi agar tetap berjalan sesuai dengan rel yang telah ditetapkan sejak awal.
Sangat kontras, di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), inklusivitas sering kali berujung pada pengabaian aturan. Fenomena di mana SDM tidak menjalankan Putusan Tarjih atau Maklumat Pimpinan menunjukkan adanya pelemahan disiplin organisatoris. Inklusivitas dalam melayani publik adalah kemuliaan, namun membiarkan pembangkangan ideologis di internal adalah ancaman bagi keberlangsungan identitas persyarikatan.
Sering kali, pengabaian ideologi ini dibenarkan dengan alasan klasik: sulitnya mencari SDM yang kompeten dari kalangan kader sendiri. Alibi "kebutuhan profesional" menjadi pintu masuk bagi SDM yang tidak memiliki keterikatan batin dengan misi dakwah Muhammadiyah. Jika alasan ini terus dipelihara, AUM berisiko kehilangan "ruh" dan hanya akan menjadi penyedia jasa komersial yang hampa nilai perjuangan
![]() |
| Berpegang erat - Internet |
Kondisi ini merupakan kritik keras bagi jajaran pimpinan untuk segera mengambil langkah resolusi. Pimpinan tidak boleh terjebak dalam zona nyaman dengan hanya menjadi manajer fasilitas. Harus ada strategi besar dalam menyiapkan sistem yang mampu melahirkan tenaga ahli yang "Double Track", yakni mereka yang secara ideologi sangat kokoh dan secara teknis sangat handal di bidangnya.
Di sisi lain, kritik tajam juga tertuju bagi para kader dan aktivis yang selama ini menekuni ideologi Kemuhammadiyahan. Memahami teori perjuangan tanpa dibarengi dengan peningkatan kapasitas profesional hanya akan membuat kader menjadi penonton di rumah sendiri. Militansi tanpa kompetensi akan kalah oleh tuntutan zaman dan persaingan global yang semakin ketat.
Oleh karena itu, resolusi bagi masa depan adalah memutus dikotomi antara ideologi dan profesionalitas. Kader Muhammadiyah harus memiliki semangat berprogres untuk meningkatkan kapasitas diri agar layak berkhidmat di amal usaha. Profesionalisme harus dipandang sebagai bagian dari ibadah dan manifestasi nyata dari teologi Al-Ma’un yang selama ini diajarkan dalam ruang-ruang perkaderan.
Muhammadiyah tidak perlu menanggalkan karakter inklusifnya, namun wajib memperketat barisan internalnya. Inklusivitas untuk pelayanan publik harus berjalan beriringan dengan ketegasan dalam disiplin ideologi. Dengan SDM yang kompeten dan militan, AUM akan tetap menjadi tenda besar yang kuat fondasinya, jelas arahnya, dan tak tergoyahkan identitasnya.

Post a Comment for " AUM: Menjadi Tenda Besar, Tanpa Harus Kehilangan Arah"