Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KRISIS DEIDEOLOGISASI, LOYALITAS DAN KADERISASI KADER AUM

Bayu Nuryanto (Ketua Bidang Kesehatan PDPM Ponorogo)

Muhammadiyah dikenal luas sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di dunia. Kebesaran itu tercermin dari amal usahanya, yaitu ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, panti asuhan, lembaga sosial, serta unit-unit pemberdayaan ekonomi umat yang telah tersebar dari ujung kota besar hingga pelosok negeri. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah menjelma menjadi wajah paling nyata dari dakwah Persyarikatan Muhammadiyah.

Sejak kelahirannya, Muhammadiyah tidak pernah memisahkan dakwah dari kerja-kerja sosial. KH Ahmad Dahlan memahami bahwa dakwah Islam tidak cukup disampaikan melalui lisan saja, tetapi harus mampu dihadirkan melalui tindakan nyata yang menyentuh problem umat. Inilah yang kemudian dikenal sebagai dakwah bil-hal, yang berakar kuat pada teologi Al-Ma’un.

Amal usaha bukan sekadar sarana teknis untuk menopang organisasi, melainkan pengejawantahan nilai-nilai Islam dalam ruang gerak sosial nyata. Sekolah Muhammadiyah adalah dakwah tentang pentingnya ilmu dan akal sehat umat. Rumah sakit Muhammadiyah/Aisyiyah adalah dakwah tentang kasih sayang dan kemanusiaan semesta. Panti asuhan serta lembaga sosial adalah dakwah tentang keberpihakan terhadap kaum mustadh‘afin dan tertindas.

Deideologisasi di-Amal Usaha Muhammadiyah, terjadi sanggat nyata, gejalanya yaitu banyak Kader AUM telah kehilangan orientasi dakwah dan sosialnya, menjadikannya AUM hanya sekadar institusi komersil tempat mencari nafkah.

Tidak sedikit AUM yang secara kelembagaan maju, tetapi secara ideologis kering. Para pegawainya bekerja dengan baik, tetapi tidak memahami Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah. Amal usaha menjadi tempat mencari nafkah, bukan ruang pengabdian. Dalam kondisi seperti ini, dakwah tidak hilang, tetapi tereduksi menjadi simbol dan seremoni. Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Ketika amal usaha terlepas dari kesadaran dakwah, maka yang tumbuh adalah institusi tanpa ruh gerakan.

Ketika amal usaha tumbuh besar tanpa diiringi penguatan ideologi, Muhammadiyah menghadapi risiko deideologisasi gerakan. Amal usaha tetap berjalan, bahkan mungkin semakin maju, tetapi Persyarikatan kehilangan daya penggerak dan militansi kader.

Terdapat pergeseran dari idealisme pengabdian menuju pragmatisme profesional. Banyak pimpinan dan pegawai AUM tidak aktif dalam pengkaderan persyarikatan. Mereka hanya sibuk urusan bekerja dan enggan untuk aktif dalam Muhammadiyah. 

Risiko ini tampak dalam beberapa gejala seperti lemahnya kaderisasi berbasis amal usaha, minimnya integrasi antara AUM dan struktur Persyarikatan, dan terbatasnya kontribusi amal usaha bagi penguatan cabang dan ranting. Jika kondisi ini dibiarkan, Muhammadiyah bisa terjebak pada situasi paradoks yaitu besar secara institusional, tetapi rapuh secara ideologis.

Refleksi kritis ini harus segera diakhiri dengan Langkah-langkah startegis dan konstruktf.  Amal Usaha Muhammadiyah harus ditempatkan kembali sebagai episentrum dakwah Muhammadiyah, bukan sekadar unit layanan sosial. 

1.    Penguatan ideologi di lingkungan AUM. 

 Ideologi Muhammadiyah tidak cukup diajarkan dalam orientasi singkat, tetapi harus menjadi nilai/ruh yang menjelma dalam bentuk kebijakan, budaya kerja, dan kepemimpinan.

2.    Integrasi dakwah dan pelayanan.

Pelayanan yang baik adalah dakwah, tetapi dakwah harus disadari, direncanakan dan dievaluasi. Nilai keislaman harus hadir dalam etika pelayanan, keberpihakan sosial, dan keteduhan moral sosial.

3.    Amal usaha sebagai ladang kaderisasi. 

 Dengan jutaan orang yang terlibat di dalamnya, AUM adalah ladang kader terbesar Muhammadiyah. Mengabaikannya adalah kesalahan strategis yang akan membawa AUM dalam keterpurukan. 

4.    Keberpihakan sosial sebagai wajah dakwah keumatan.

Amal usaha harus terus meneguhkan orientasi Al-Ma’un,  membela yang lemah, menjangkau yang terpinggirkan, dan menghadirkan keadilan sosial bagi semesta.

Post a Comment for "KRISIS DEIDEOLOGISASI, LOYALITAS DAN KADERISASI KADER AUM"