Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fasilitas Mewah, Kader Tak Bergairah : Refleksi Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Slahung

Oleh : Doddy Rendra Pradipta (Sekertaris PCPM Slahung)

Pemuda Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukanlah organisasi yang dibesarkan oleh kemewahan fasilitas. Organisasi ini tumbuh dari semangat dakwah amar ma'ruf nahi munkar, pengkaderan yang berkesinambungan, dan militansi para kader yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi demi kemajuan Persyarikatan dan umat. Sejarah mencatat bahwa kader-kader terbaik lahir bukan karena menikmati kenyamanan, melainkan karena ditempa dalam perjuangan.

Hari ini, kondisi organisasi di berbagai daerah mengalami perkembangan yang menggembirakan. Banyak pimpinan telah memiliki fasilitas yang layak, bahkan sangat megah dan mewah ruang sekretariat yang representatif, kendaraan operasional, serta berbagai sarana penunjang lainnya. Semua ini patut disyukuri sebagai hasil kerja keras para pendahulu dan bentuk amanah yang harus dijaga.

Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: mengapa di beberapa tempat semangat kaderisasi justru tidak tumbuh seiring dengan semakin baiknya fasilitas organisasi? Fenomena ini tentu tidak bisa digeneralisasi. Masih banyak cabang dan daerah yang menunjukkan semangat luar biasa. Akan tetapi, di sebagian tempat kita mulai melihat gejala yang perlu mendapat perhatian. Perkumpulan anggota sering sepi daripada ramai dengan diskusi. Agenda perkaderan tidak berjalan secara konsisten. Kader hadir hanya ketika ada acara seremonial, tetapi sulit ditemukan saat organisasi membutuhkan tenaga, pikiran, dan komitmen jangka panjang.

Persoalan tersebut sesungguhnya bukan terletak pada fasilitas. Fasilitas tidak pernah menjadi musuh organisasi. Justru fasilitas adalah amanah yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat gerakan. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika orientasi kader mulai bergeser dari berjuang menjadi menikmati, dari mengabdi menjadi menunggu dilayani, dan dari membangun organisasi menjadi memanfaatkan organisasi.

 

Refleksi

Dalam tradisi Muhammadiyah, kader dibentuk melalui proses yang panjang: belajar, berdiskusi, turun ke masyarakat, mengelola amal usaha, serta memikul tanggung jawab organisasi. Kaderisasi bukan sekadar mengikuti pelatihan formal, tetapi membentuk karakter yang berlandaskan keikhlasan, kedisiplinan, intelektualitas, dan keberanian mengambil peran.

Karena itu, fasilitas yang megah seharusnya menjadi pusat kehidupan organisasi. Di sanalah lahir gagasan, kajian keislaman, pelatihan kepemimpinan, diskusi kebangsaan, serta program pemberdayaan masyarakat. Jika fasilitas hanya digunakan pada acara tertentu, maka kita perlu mengevaluasi apakah ruh kaderisasi benar-benar hidup di dalamnya.

Pemuda Muhammadiyah memiliki modal besar: ideologi Islam Berkemajuan, sistem perkaderan yang jelas, jaringan organisasi yang luas, dan kader-kader muda yang memiliki potensi luar biasa. Modal tersebut akan kehilangan daya apabila tidak diiringi budaya belajar, budaya berdiskusi, budaya beramal, dan budaya melayani.

Sudah saatnya setiap pimpinan menjadikan fasilitas organisasi sebagai instrumen untuk menghidupkan kaderisasi. Ukuran keberhasilan pimpinan bukan hanya bertambahnya aset organisasi, tetapi juga bertambahnya kader yang aktif, lahirnya pemimpin baru, tumbuhnya komunitas belajar, serta meningkatnya kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, kekuatan Pemuda Muhammadiyah tidak pernah diukur dari megahnya gedung atau lengkapnya inventaris organisasi. Kekuatan sejati terletak pada kader yang memiliki keikhlasan, kapasitas, integritas, dan semangat berjuang. Sebab, gedung hanya akan menjadi bangunan, sedangkan kader yang hidup akan menjadi penggerak peradaban.

Mari kita jadikan fasilitas sebagai sarana, bukan tujuan. Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling nyaman, melainkan organisasi yang mampu melahirkan kader-kader yang siap mengabdi untuk Persyarikatan, umat, dan bangsa.***

Post a Comment for "Fasilitas Mewah, Kader Tak Bergairah : Refleksi Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Slahung"