DIKLAT KOKAM VI: Rekrutmen Paramiliter Muhammadiyah yang Bukan Sekadar untuk Gagah-Gagahan
Oleh: Yazid Fanani,M.Pd
Muhammadiyah sejak awal berdirinya dikenal sebagai gerakan Islam yang menitikberatkan pada dakwah amar ma’ruf nahi munkar melalui jalur pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Di balik besarnya amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia, terdapat kebutuhan akan kader yang memiliki ketangguhan fisik, kedisiplinan, loyalitas organisasi, serta kesiapsiagaan dalam menjaga keberlangsungan gerakan. Dalam konteks inilah Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) hadir sebagai salah satu instrumen strategis Pemuda Muhammadiyah.
Komandan
kokam PDPM Ponorogo 2016-2019
Namun, sering kali muncul persepsi keliru bahwa mengikuti Diklat KOKAM hanya bertujuan untuk tampil gagah dengan atribut paramiliter. Padahal, hakikat KOKAM jauh lebih mulia dan substantif daripada sekadar urusan seragam, baris-berbaris, atau ketangkasan fisik. KOKAM adalah kader pengabdian yang dipersiapkan untuk menjadi pengaman, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah dalam bingkai dakwah Islam berkemajuan. Oleh karena itu, Diklat KOKAM XI yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Ponorogo pada September 2026 memiliki makna strategis bagi penguatan kader dan masa depan gerakan Muhammadiyah di Ponorogo.
KOKAM merupakan salah satu bidang yang berada di bawah Pemuda Muhammadiyah. Keberadaannya bukan organisasi yang berdiri sendiri, melainkan perangkat kaderisasi yang dibentuk untuk mendukung tugas dan misi Pemuda Muhammadiyah. Secara historis, KOKAM lahir dari kebutuhan gerakan untuk memiliki kader yang siap menghadapi berbagai tantangan dakwah, sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Sebagai wujud nyata keintelektualan KOKAM dan bukti bahwa KOKAM bukan pasukan “ecak-ecek”, Diklat KOKAM VI hadir dengan semangat baru, merekrut dan membina para pelajar dan mahasiswa sebagai kader pengaman Persyarikatan yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.
KOKAM bukan sekadar barisan berseragam yang hanya tampak gagah di lapangan. Diklat KOKAM adalah kawah candradimuka kader Muhammadiyah yang memadukan kekuatan fisik, ketangguhan mental, kedisiplinan organisasi, dan kecerdasan intelektual. Karena itu, anggota KOKAM tidak hanya berasal dari kalangan biasa, tetapi dari orang-orang pilihan yang siap mengabdikan diri untuk umat, bangsa, dan Persyarikatan.
Faktanya, banyak anggota KOKAM yang berlatar belakang sarjana (S1), magister (S2), bahkan kandidat doktor dan doktor. Hal ini menunjukkan bahwa KOKAM dihuni oleh kader-kader yang tidak hanya kuat dalam tindakan, tetapi juga tajam dalam pemikiran. Mereka hadir sebagai representasi bahwa kader Muhammadiyah harus unggul dalam ilmu sekaligus siap berkhidmat di medan pengabdian.
Maka, Diklat KOKAM VI bukanlah ajang untuk mencari popularitas atau sekadar tampil gagah-gagahan. Diklat ini adalah proses mencetak kader pengaman, pelangsung, dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). KOKAM berdiri untuk menjaga marwah Persyarikatan, mengawal dakwah Muhammadiyah, membantu kemanusiaan, serta menjadi garda terdepan dalam pengabdian sosial dan kebencanaan.
KOKAM adalah pasukan berilmu, pasukan pengabdian, pasukan peradaban. Karena Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang hanya kuat mengangkat tangan, tetapi juga kader yang mampu mengangkat martabat umat melalui ilmu, amal, dan keteladanan.
Pentingnya Diklat KOKAM 6 PDPM Ponorogo
Pelaksanaan Diklat KOKAM 6 PDPM Ponorogo pada tanggal 05–06 September 2026 merupakan momentum penting bagi konsolidasi kader muda Muhammadiyah di daerah. Diklat ini tidak boleh dipahami sebagai kegiatan seremonial tahunan semata, tetapi sebagai investasi kaderisasi jangka panjang.
Pada akhirnya, seragam KOKAM bukan hanya untuk untuk pengamaman lalu lintas, pengajian dan acara-acara seremonial, tapi lebih dari itu KOKAM hadir sebagai penjagakeamanan dan keberlangsungan Muhammadiyah dan asset-asetnya, baik yang berbentuk fisik ataupun ideologi. Keberanian seorang kader KOKAM bukan diukur dari seberapa gagah ia terlihat, melainkan dari seberapa besar kesediaannya berkorban untuk Muhammadiyah, umat, dan bangsa Indonesia.
Post a Comment for "DIKLAT KOKAM VI: Rekrutmen Paramiliter Muhammadiyah yang Bukan Sekadar untuk Gagah-Gagahan"