Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kegembiraan Yang Esklusif : Sebuah Ironi Di Balik Slogan " Dakwah Menggembirakan "

Oleh: Ryan Abi Tama S.E

Sekertaris PCPM Sambit

 

THE GAP

Pengantar

Menjelang perhelatan RAPIMDA I 2026 PDPM Ponorogo, mari sejenak kita bermuhasabah : Dibalik pencapaian, kebanggaan, sajungan, prestasi selama separuh periode ini sudahkah ; program - program yang terlaksana memberikan feedback konkret dan berkelanjutan, atau hanya sekedar seremonial, euforia serta pemenuhan laporan pertanggungjawaban belaka? sudahkan setiap anggota terlibat aktif dalam setiap program, sehingga rasa tanggungjawab, memiliki dan dedikasi itu benar-benar muncul secara organik atau hanya berdasar asas keterpaksaan, ketidakenakan, tekanan? sudahkah organisasi Kita ini benar-benar menjadi rumah untuk pulang, mengakar, tumbuh, berkembang atau hanya seperti warteg, yang ketika kenyang, selesai hajatnya, kemudian pergi ? atau sudahkan di dalam persyarikatan, dengan nama besar dan reputasinya ini, semua anggota/warga/kadernya benar-benar merasakan kegembiraan yang setara, tanpa diskriminasi, kegembiraan yang inklusif bukan hanya di nikmati oleh kelompok atau sirkel tertentu, yang punya relasi kuasa dengan para elit, sudahkah demikian ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan argumentatif teoritis yang normatif, tapi juga harus menghadirkan nurani, mengesampingkannya ketokohan dan segala kontribusi, Kita perlu jujur dengan realitas yang ada.

Isi

Berdasarkan isu/pertanyaan yang muncul, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pokok bahasan Kita, yakni :

A. Pola Komunikasi

Komunikasi memiliki peran strategis dalam menyampaikan, mempengaruhi, bahkan menggerakkan suatu entitas untuk terkonsentrasi terhadap suatu informasi atau doktrin yang akan kita sampaikan. Kendati demikian, efektivitas informasi juga bergantung terhadap cara berkomunikasi (media atau individu), sayangnya, Kami belum melihat adanya komunikasi yang efektif terkhusus dalam penyampaian informasi yang sifatnya strategis dan penting yang menyangkut hal sensitif, seperti polemik terhadap AUM, pimpinan, kepengurusan, Ortom atau kasus lainnya, padahal dalam hal demikian harusnya ada audensi/diskusi, penjelasan, apalagi melibatkan banyak orang dan membenturkan antar dua pihak atau lebih, sehingga dengan adanya audensi/diskusi, penjelasan, Kita dapat mengerti dan memahami serta menyampaikan opini tentang latar belakang masalah, apa yang Kita perjuangkan, dan apa yang harus Kita lakukan, tidak hanya " grudak-gruduk, mbuntut kancane"

Pola komunikasi yang kurang efektif tidak hanya menyebabkan disinformasi yang menyebabkan ketidaksinkronan antara pimpinan dan anggota, namun juga memberikan stigma bahwa pergerakan yang ter komando bukan kolaboratif partisipatif, dan hal ini lah diantara penyebab mengapa program yang terlaksana tidak memberikan kesan dan dampak positif yang berkelanjutan.

B. Ketimpangan dan Relasi Kuasa

            Jika melihat dan merasakan ketimpangan yang terjadi antara pihak-pihak yang punya relasi kuasa dan konflik kepentingan dengan pihak-pihak diluar lingkaran tersebut, dimana mereka murni atas dorongan nurani, sukarela dan kesamaan pandangan, sepertinya terdapat problem atau hal yang salah yang harus dibenahi bersama. Permasalahan ini sifatnya adalah struktural, sehingga menyangkut banyak hal yang perlu di benahi, menyangkut sistem, aturan dan birokasi itu sendiri.

            Dalam lingkup Persyarikatan Muhammadiyah secara umum, capaian pembangunan, pertumbuhan aset beserta segala glamoritas nya tidak perlu di ragukan lagi, namun yang menjadi pertanyaan, untuk siapa hal tersebut? sudahkan setiap warga persyarikatan yang mengabdi, menghidupi, memperoleh hak, kesempatan, akses, fasilitas atau bahkan kesejahteraan yang sama dan setara?

Dibalik pembangunan sekolah, Universitas, Rumah Sakit, Amal Usaha, yang megah dengan anggaran triliunan serta Program Beasiswa/Pendidikan, ternyata masih ada sekolah yang perlu perbaikan, ada Guru/Dosen yang belum mendapatkan haknya secara layak, para kader yang ikhlas mengabdi sulit mendapatkan akses beasiswa dan pendidikan tinggi disebabkan tidak punya kedekatan relasi kuasa, padahal boleh jadi mereka mau terlibat dalam kegiatan disebabkan karena ikatan kerja atau kepentingan tertentu yang mengikat di Persyarikatan, bukan atas asas hati nurani, juga banyak kader yang sulit mendapat kerja disebabkan akses mereka yang dibatasi untuk dapat bekerja khususnya di AUM, padahal mereka berjuang di persyarikatan tanpa ada tendensi pribadi, ikatan kerja, dan juga sudah terbukti loyalitasnya, sudah seharusnya mereka mendapat apresiasi dan perhatian yang setara.

Ketika prinsip kesetaraan dan inklusifitas dihadirkan, maka semua pihak akan merasa saling memiliki, membesarkan, bertumbuh dan Perysarikatan menjadi rumah untuk pulang. Dengan begitu, roda organisasi akan berjalan secara organik sesuai visi misinya tanpa harus dibuat-buat atau dimanipulasi untuk kepentingan tertentu.

Benang kusut dari permasalahan ini adalah tentang keberpihakan, bukan perlombaan untuk pencapaian, tentu sebuah ironi jika pihak yang berada di akar rumput selalu di intevnesi dan di buai dengan kata-kata manis dan dogmatis, sementara para elitis dengan segala fasilitas dan kekuasaannya menutup mata dengan relitas yang terjadi.

Hal ini perlu perhatian serius dan perlu adanya intervensi dari pihak-pihak yang punya pengaruh maupun para kader yang punya kepedulian untuk menyuarakan kebenaran, agar tata kelola pemanfaatan sumber daya/program dan manusiannya dapat merata dan setara, tanpa adanya diskriminasi serta tendensi.

C. Perlunya Sinkronisasi

Dalam menjalankan program, Kami melihat kurang merata dan kurang melibatkan banyak cabang, dalam hal sebagai penyelenggara maupun peserta perlu adanya penyamaan presepsi, indikator keberhasilan yang dapat diukur, analisa efektivitas, mitigasi resiko/fraud serta rencana tindak lanjut.

            Dengan luasnya cakupan wilayah yang dinaungi dan terbatasnya akses, PDPM Ponorogo bersama AUM/Ortom di tingkat daerah atau bahkan Cabang, perlu duduk bersama melakukan sinkronisasi dan menyusun roadmap agar setiap program yang akan dijalankan dapat merata dan tepat sasaran. Tidak berdiri sendiri-sendiri, selain meringankan dalam aspek fiskal juga dapat menjaga sinergitas antar ortom/AUM.

D. Optimalisasi Sistem Pengkaderan

Bagi pihak yang menganggap Muhammmadiyah sebagai bagian untuk bertumbuh, berkembang, dan saling membesarkan, baginya Muhammadiyah adalah rumah untuk pulang, tempat untuk bernaung. Namun, bagi sebagian pihak, Pemuda Muhammadiyah tak lebihnya sebagai warteg, Ia datang/mampir jika punya keperluan, setelah keperluan/hajatnya selesai ia pun pergi, ironisnya sang pemilik warteg sangat percaya bahwa ia akan kembali, dan menganggap bahwa tidak ada pelanggan lain selain dirinya.

Lambatnya regenerasi pengkaderan dan rendahnya loyalitas terhadap Persyarikatan disebabkan pola pengkaderan yang bersifat seremonial, dan momentuman, tanpa dibarengi dengan strategi, siklus, pendampingan bahkan intervensi yang jelas dan terukur. Karenanya, ketika momentum itu berlalu/selesai maka relasi pun juga berakhir, kondisi demikian menjadi PR tidak hanya dilingkup daerah tetapi juga dilingkup cabang.

Sinergitas lintas sektoral dalam merumuskan strstegi yang terstruktur, sistematis yang relevan dan perbaikan sistem secara menyeluruh merupakan langkah ststegis yang harus dilakukan, agar dengan sumberdaya, potensi dan previlage yang dimiliki, tidak hanya digunakan membangun, ekspansi secara fisik, namun juga menyiapkan, memprioritaskan regenerasi kader yang berkualitas dan siap pakai. Selain itu, juga agar standar sistem pengkaderan dapat lebih dioptimalkan serta relevan dan reselien dengan perkembangan, sehingga intervensi dan apresiasi harus berjalan beriringan secara proporsional.

Penutup

            Berbagai pencapaian, kebanggaan, kepuasan, tepuk tangan, elu-eluan terhadap Persyarikatan, ternyata masih terdapat ironi, ketimpangan yang menjadi refleksi untuk kita perbaiki bersama, Kita menyadari betul bahwasannya tidak ada suatu entitas atau organisasi yang sempurna, semua memiliki keurangan ,keunggulan masing-masing. Namun, Kita sebagai kader/warga Persayarikatan yang didoktrin untuk kritis tidak boleh menormalisasi atau bahkan meromantisasi narasi - narasi demikian.

Organisasi/Entitas yang berhasil ialah yang tidak puas dengan segala pencapaian dan senantiasa bermuhasabah, memperbaiki segala kekurangan, sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah subhana wa'tala, dan kekurangan merupakan suatu keniscayaan untuk mahkluk ciptaa - Nya, sehingga dengan menyadari hal ini, Kita akan senantiasa bergerak, memperbaiki dan mempersempit gap kekurangan yang ada.

Menutup opini, Kami berterima kasih dan apresiasi yang settiggi- tingginya atas dedikasi dan pengabdian para pengurus selama seperuh periode berjalan ini, selamat melaksankan RAPIMDA 1 2026 semoga Allah subhana wa ta'ala senantiasa membimbing kita kepada jalan kebenaran dan kebaikan, dan meridhoi setiap perjuangan kita. Aamin Allahuma Aamin. Fastabiqul Kahoirot.


Post a Comment for "Kegembiraan Yang Esklusif : Sebuah Ironi Di Balik Slogan " Dakwah Menggembirakan ""