Membangun Rumah Sendiri dengan Batu Yang Kokoh
Refleksi Perkaderan dan Profesionalisme di Amal Usaha Muhammadiyah
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah benteng sekaligus etalase dakwah persyarikatan. Dari sekolah, universitas, hingga rumah sakit, AUM hadir tidak hanya sebagai simbol pelayanan sosial, tetapi juga manifestasi nyata dari teologi Al-Ma’un. Di balik megahnya insfrastruktur dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas, ada satu elemen kunci yang menjadi jantung penggeraknya: manusia-manusia di dalamnya.
Sebagai organisasi otonom yang menjadi kawah candradimuka pemuda, Pemuda Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai "penyuplai" kader terbaik untuk mengabdi di AUM. Namun, di tengah dinamisnya tuntutan zaman, kita perlu duduk sejenak dan melakukan refleksi yang jujur: Apakah proses rekrutmen dan penempatan kader ke dalam AUM sudah benar-benar berbasis kompetensi, atau masih terjebak pada pragmatisme loyalitas semata?
Membangun Rumah
Realita Lapangan: Antara Semangat
Ber-Muhammadiyah dan Tuntutan Profesional
Tidak bisa dimungkiri, memasukkan kader Pemuda Muhammadiyah ke dalam AUM adalah langkah yang niat dasarnya sangat mulia. Tujuan utamanya jelas: menjaga ideologi, memastikan AUM dikelola oleh orang-orang yang paham arah perjuangan persyarikatan, serta memberikan ruang pengabdian bagi generasi muda.
Namun, persoalan muncul ketika garis batas antara "kaderisasi" dan "profesionalisme" menjadi kabur. Dalam beberapa kasus, keberadaan status sebagai "kader" atau "pengurus" seolah menjadi tiket emas yang mengenyampingkan kualifikasi teknis, rekam jejak, dan kapasitas profesional yang dibutuhkan oleh posisi tersebut.
Ketika AUM—yang berkompetisi langsung di dunia publik yang ketat—diisi oleh SDM yang kurang kompeten di bidangnya, maka dampak negatifnya akan kembali ke persyarikatan itu sendiri: efisiensi menurun, kualitas pelayanan tergerus, dan mutu AUM berisiko tertinggal dari kompetitor luar. Meminta AUM bersaing secara profesional sambil memberi kelonggaran standar pada SDM internal adalah sebuah kontradiksi yang merugikan.
Saat Baitul Arqam dan Pelatihan Sekadar Menjadi "Formalitas Stampel"
Sebenarnya, Muhammadiyah telah memiliki sistem yang sangat rapi untuk mencegah masalah ini. Kita mengenal Baitul Arqam, Pelatihan Kader Tarjih, hingga berbagai pelatihan vokasional dan manajerial. Harapannya, kader yang masuk ke AUM adalah mereka yang selesai dengan ideologinya sekaligus matang secara kapasitas teknis.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tak jarang proses perkaderan ini mengalami penyempitan makna dan terjebak dalam rutinitas birokratis:
- Perkaderan yang Menjadi Syarat Administratif: Baitul Arqam atau Pelatihan Kader sering kali hanya dijadikan "syarat kelengkapan berkas" untuk masuk kerja atau naik jabatan, bukan lagi sebagai proses transformasi nilai dan pengasahan kapasitas.
- Kurikulum yang Kurang Relevan dengan Tuntutan Kerja: Materi perkaderan kerap berhenti pada tatanan normatif dan sejarah, tanpa mengintegrasikan nilai-nilai etika kerja modern, leadership, manajemen konflik, serta standar pelayanan profesional sesuai bidang AUM (misalnya manajemen rumah sakit atau tata kelola pendidikan).
- Absennya Evaluasi Pascapelatihan: Kader dinyatakan "lulus" hanya karena menghadiri sesi dari awal hingga akhir, tanpa ada indikator penilaian objektif terkait kesiapan kinerja dan kompetensi nyata saat diterjunkan ke lapangan.
Ketika pelatihan kader hanya menjadi panggung seremonial untuk mengejar sertifikat, maka kita sedang membohongi diri sendiri. Kita meluluskan kader dengan Stempel Ideologis, tetapi membiarkan mereka "gagap" secara Profesional.
Redefinisi Loyalitas: Yang Kritis dan Kompeten Adalah Yang Paling Loyal
Kritik ini sama sekali tidak bertujuan untuk menolak kader Pemuda Muhammadiyah bekerja di AUM. Justru sebaliknya, AUM harus diisi oleh kader-kader terbaik. Namun, kita perlu meredefinisi apa yang dimaksud dengan "kader terbaik".
Kader yang loyal bukan sekadar mereka yang rajin hadir di rapat organisasi atau penurut pada senior, melainkan mereka yang:
- Memiliki keahlian (skill) yang mumpuni di bidangnya sehingga mampu membawa AUM lebih maju dan berdaya saing.
- Memiliki integritas moral dan etika kerja yang tinggi sebagai cerminan nilai-nilai Islam.
- Berani berpikir kritis dan berinovasi demi kebaikan AUM, bukan sekadar menjaga status quo.
Langkah Pembaharuan: Meluruskan Kembali Khittah Perkaderan
Untuk mengurai benang kusut ini, ada beberapa langkah transformatif yang bisa ditempuh secara kolektif oleh pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan pengelola AUM:
- Penerapan Sistem Meritokrasi Berbasis Ideologi: Penempatan kader di AUM harus melewati dua pintu seleksi yang sama ketatnya: seleksi ideologi/al-Islam Kemuhammadiyahan dan seleksi kompetensi profesional (merit system). Jika kompetensi teknis belum terpenuhi, kader wajib dibina terlebih dahulu sebelum diberi amanah.
- Modernisasi dan Desain Ulang Kurikulum Pelatihan: Pelatihan kader Pemuda Muhammadiyah yang ditargetkan untuk AUM harus mengombinasikan materi keislaman/kemuhammadiyahan dengan hard skill dan soft skill yang sesuai dengan kebutuhan industri AUM saat ini.
- Uji Kompetensi dan Akuntabilitas Objektif: Kelulusan perkaderan harus berbasis pada penilaian kualitatif dan kualifikasi yang terukur, bukan sekadar daftar hadir.
- Pemisahan Antara Relasi Organisasi dan Profesionalitas Kerja: Saat berada di struktur Pemuda Muhammadiyah, hubungan yang berlaku adalah hubungan perkaderan dan keorganisasian. Namun saat melangkah masuk ke AUM, hubungan yang berlaku adalah profesionalitas kerja dan tanggung jawab publik.
Penutup
Mengkritik proses rekrutmen kader ke AUM bukanlah bentuk penyampaian rasa tidak suka, melainkan wujud rasa cinta yang dalam terhadap Muhammadiyah. Kita tidak ingin AUM yang dibangun dengan keringat dan darah para pendahulu menjadi lambat bergerak hanya karena kompromi kualitas atas nama "kedekatan organisasi".
Pemuda Muhammadiyah harus membuktikan bahwa kader-kadernya bukan sekadar "penumpang" di AUM, melainkan "penggerak Utama" yang paling siap, paling profesional, dan paling unggul di bidangnya masing-masing. Hanya dengan cara itulah, dakwah amar ma'ruf nahi munkar melalui AUM dapat terus relevan dan melintasi zaman.
Post a Comment for "Membangun Rumah Sendiri dengan Batu Yang Kokoh"