Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Terlalu Lama di Bangku Cadangan: Nasib Kader Berbakat Muhammadiyah Ponorogo

Mengapa ketika ide sudah matang, persiapan sudah dilakukan, tetapi yang akhirnya diberi kepercayaan untuk mengeksekusi tetap pihak lain? Bagi sebagian kader muda Muhammadiyah Ponorogo, ini bukan pengalaman sesekali, melainkan pola yang cukup sering berulang.

Di banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga lembaga strategis lainnya, posisi-posisi penting kerap dipercayakan kepada pihak di luar kader sendiri. Padahal tidak sedikit kader dari IMM, IPM, maupun alumni pengkaderan yang memiliki kapasitas setara, bahkan melebihi. Kemampuannya ada, portofolionya ada. Yang belum ada hanya satu: kesempatan.

## Ketika Panggung Selalu Milik Orang Lain

Para kader ini sesungguhnya tidak pernah berhenti berusaha. Mereka aktif dalam kajian, mengikuti pelatihan, bahkan rela begadang menyusun proposal kegiatan. Namun ketika posisi strategis harus diisi, yang dipercaya tetap pihak yang dianggap "sudah punya nama". Kader sendiri lebih sering kebagian peran pelengkap, bukan peran utama.

Bukan berarti peran pelengkap itu tidak penting. Tapi jika pola ini terus berlangsung, kapan kader-kader ini mendapat ruang untuk naik level, mencoba, sesekali gagal, lalu belajar dari kesalahannya sendiri? Organisasi ini punya gagasan besar soal kemandirian umat, tapi giliran ke urusan internal sendiri, kadang lupa menerapkan prinsip yang sama pada kadernya.

## Ketika Kader Karbitan Lupa Jalan yang Pernah Ia Lalui

Ada persoalan lain yang tak kalah penting: fenomena kader karbitan. Sebagian yang naik ke posisi strategis secara cepat, baik karena kedekatan maupun situasi mendesak, tidak selalu diimbangi kesiapan untuk membina generasi setelahnya.

Alih-alih membimbing junior di bawahnya, tidak sedikit yang justru memperlakukan posisi tersebut sebagai pencapaian pribadi yang harus dijaga sendiri. Ilmu yang seharusnya diwariskan malah disimpan rapat-rapat, sementara junior dibiarkan meraba jalan sendiri.

Padahal semakin tinggi posisi seseorang, semestinya semakin besar tanggung jawabnya untuk membuka jalan bagi yang di bawah. Kaderisasi yang sesungguhnya justru dimulai setelah seseorang naik jabatan, bukan berhenti di situ. Kombinasi antara kader berbakat yang jarang diberi panggung dan kader yang sudah naik namun enggan membimbing, menciptakan lingkaran yang tidak sehat.

## Bukan Sekadar Soal Perasaan, Ini Soal Regenerasi

Ini bukan sekadar soal siapa yang tampil, melainkan soal bagaimana organisasi mempersiapkan generasi penerusnya. Jika kader tak pernah diberi tanggung jawab besar, dan yang sudah di atas pun enggan menularkan ilmunya, bagaimana mereka bisa siap saat giliran mereka tiba? Regenerasi bukan sekadar soal pergantian usia, melainkan soal proses yang membutuhkan panggung sekaligus bimbingan, bukan hanya teori di ruang pengkaderan.

Foto Bersama PDM Ponorogo - Medkom

## Bukan Meminta Dikasihani, Hanya Meminta Dipercaya

Kader muda Muhammadiyah Ponorogo tidak butuh dikasihani. Yang dibutuhkan hanya dua hal: kesempatan untuk membuktikan diri, dan bimbingan dari mereka yang lebih dulu berada di atas. Jika hasilnya belum maksimal, itu wajar, karena bagian dari proses belajar.

Jika Muhammadiyah Ponorogo ingin benar-benar kuat dari dalam, sudah saatnya berani memberi panggung pada kadernya sendiri, sekaligus menagih tanggung jawab dari yang sudah naik untuk mau membimbing yang di bawah. Bukan karena kader muda tidak mampu, tetapi justru karena mereka mampu dan hanya butuh satu hal: kepercayaan yang diwariskan, bukan disimpan sendiri.

Sebab kader yang tangguh tidak lahir hanya dari teori pengkaderan, melainkan dari kesempatan dan bimbingan yang diberikan sejak awal.

Post a Comment for "Terlalu Lama di Bangku Cadangan: Nasib Kader Berbakat Muhammadiyah Ponorogo"