AUM Muhammadiyah Makin Megah, Kadernya Kian Langka?
![]() |
| Kader Karbitan |
Penulis: Kader Muhammadiyah Ponorogo
Setiap kali melintasi jalan-jalan utama di Ponorogo, jejak Muhammadiyah nyaris tak bisa dihindari. Ada perguruan tinggi, perbankan, rumah sakit, puluhan sekolah dari TK hingga SMA, pesantren, semuanya tersebar di berbagai sudut kota. Semua itu adalah wajah nyata dari apa yang selama ini kita sebut Amal Usaha Muhammadiyah, atau AUM.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tapi menggelitik: apakah pertumbuhan sebesar ini diiringi oleh pertumbuhan kader yang setara?
Perlu digarisbawahi, Muhammadiyah sesungguhnya tidak pernah abai soal kaderisasi. Sejak Keputusan Muktamar terdahulu, organisasi ini sudah memiliki sistem kaderisasi resmi bernama Darul Arqam — sebuah pembinaan ideologi dan kepemimpinan yang di tingkat daerah, cabang, dan ranting kemudian disederhanakan menjadi Baitul Arqam. Di jajaran Pimpinan Pusat periode ini pun, ada bidang khusus yang menangani "Organisasi, Ideologi, Kaderisasi, dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah". Artinya, secara struktural, kaderisasi bukan agenda sampingan. Ia punya tempat resmi, bahkan sejak lebih dari setengah abad lalu. Hmmm, Kaderisasi Sebenarnya Bukan Barang Baru!
Di Ponorogo sendiri, geliat kaderisasi juga terus berjalan. Forum Ta'aruf dan Orientasi Siswa alias Fortasi, misalnya, menjadi pintu masuk pertama bagi siswa baru untuk mengenal Tapak Suci, Hizbul Wathan, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah — bukan lewat ceramah satu arah, melainkan pengalaman langsung di lapangan. Bahkan kaderisasi kini sudah menyasar anak-anak sekolah dasar lewat program IPM Kids. Seperti yang dijalankan di beberapa sekolah dasar Muhammadiyah Ponorogo. Di jajaran Pemuda Muhammadiyah, jumlah cabangnya melampaui jumlah kecamatan yang ada, bukti bahwa kader Muhammadiyah Ponorogo begitu luas.
Jadi kalau ditanya apakah sistem dan semangat kaderisasi itu ada, jawabannya jelas: ada, dan terus bergerak.
Lalu, di Mana Letak Persoalannya?
Persoalannya bukan pada ketiadaan sistem, melainkan pada bagaimana sistem itu benar-benar sampai ke akar rumput secara merata. Di lain tempat, muncul suara menggelitik yang menyoroti persoalan lain: ironi ketika kader dari organisasi otonom seperti IMM, IPM, atau Pemuda Muhammadiyah justru sering dianggap kurang kompetitif dibanding pelamar dari luar saat AUM membuka lowongan kerja. Bagi sebagian kader, ini terasa ganjil - rumah sendiri, tapi anak kandungnya justru harus berjuang ekstra keras untuk mendapat tempat.
Tentu ini bukan fakta yang bisa digeneralisasi ke semua AUM, tapi kegelisahan semacam ini muncul berulang kali dari berbagai penjuru, dan itu sendiri sudah menjadi sinyal yang layak direnungkan bersama.
Bukan Krisis Angka, tapi Krisis Perhatian
Kalau ditelusuri lebih jauh, jika ada yang menyebut minimnya kader nasional maupun di Ponorogo atau justru menurun dapat dijawab dengan tegas, bias (jawaban yang dapat didikusikan). Yang justru terlihat di permukaan adalah apakah terjadi ketimpangan perhatian, energi dan sumber daya organisasi seakan lebih banyak tercurah untuk membesarkan gedung, unit usaha, dan aset fisik, sementara pembinaan suber daya di baliknya kerap berjalan lebih pelan, kurang terdata, dan kurang terintegrasi.
Barangkali di sinilah letak pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan. Bukan "apakah kader kita semakin langka", melainkan "apakah kita sudah cukup serius mendata, membina, dan memberi ruang bagi kader yang sebenarnya ada di sekitar kita?" AUM boleh terus tumbuh - dan memang seharusnya begitu. Tapi pertumbuhan itu akan kehilangan makna jika yang menjaga dan menghidupkannya kelak justru orang-orang yang tidak lagi mengenal ruh perjuangan Muhammadiyah.
Karena Muhammadiyah itu besar, bisa besar karena Muhammadiyah.
Begini, kader yang tumbuh dengan garis perkaderan persyarikatan, bukan mengeluh karena tersisih dalam pekerjaan namun disisihkan, mereka akan berjuang dengan lebih (di depan) bukan karena sekedar ketika diberi kesempatan untuk mengemban tetapi karena amanah persyarikatan.
KH Ahmad Dahlan pernah berpesan, "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Pesan itu bukan sekadar slogan usang. Ia adalah pengingat bahwa sebesar apa pun amal usaha yang dimiliki, semuanya hanya akan bermakna jika ada orang-orang yang menghidupinya dengan ketulusan — bukan sekadar menempatinya sebagai tempat bekerja.
AUM Muhammadiyah di Ponorogo semakin makin megah, namun tinggal kita jawab bersama: sudah cukup seriuskah tangan-tangan yang akan merawatnya disiapkan?
Referensi: diambil berbagi data resmi persyarikatan.

Post a Comment for "AUM Muhammadiyah Makin Megah, Kadernya Kian Langka?"