Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KOKAM Merajut Ukhuwah di Tanah Tebuireng

Pagi di Tambakberas Jombang belum sepenuhnya terang ketika rombongan kecil berpakaian loreng khas Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) melangkah menyusuri kerumunan ribuan muktamirin. Di dada kiri mereka, emblem KOKAM Pemuda Muhammadiyah Ponorogo terpasang rapi. Tanpa rasa canggung maupun jarak, lima anggota KOKAM dari Bumi Reog ini memantapkan langkah untuk hadir dan meramaikan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.

Kehadiran lima personel ini memang terhitung ringkas secara jumlah, namun membawa pesan kebersamaan yang teramat riuh. Di tengah megahnya helatan tertinggi warga Nahdliyin tersebut, KOKAM Ponorogo tidak sekadar datang sebagai penonton. Mereka hadir menyapa saudara sesama Muslim, ikut membantu mengarahkan alur pengunjung di sekitar area venue, hingga melempar senyum dan bersenda gurau gurih khas Jawa Timuran bersama rekan-rekan Banser yang tengah siaga.

"Kami berangkat berlima dari Ponorogo membawa misi silaturahmi. NU dan Muhammadiyah itu ibarat dua pilar yang menyangga rumah yang sama. Jadi, saat saudara kami punya hajat besar, sudah sepatutnya kami ikut mangayubagya dan memastikan suasana tetap teduh," tutur salah satu anggota KOKAM di lokasi acara.

Pemandangan tersebut tak ayal mencuri perhatian banyak pasang mata. Di antara lalu lalang peserta dan riuhnya pedagang pernak-pernik muktamar, sapaan hangat dan jabat tangan erat antar-pemuda beda ormas ini menjadi oase yang menyejukkan. Kehadiran lima ksatria loreng Muhammadiyah dari Ponorogo ini seolah menegaskan bahwa perbedaan warna seragam tak pernah mampu melunturkan ikatan ukhuwah Islamiyah. Di Jombang hari itu, kehangatan beragama dan persaudaraan berdiri tegak di atas segalanya.






 

Post a Comment for "KOKAM Merajut Ukhuwah di Tanah Tebuireng"